Assalamu'alaikum, Wr, Wb Selamat Datang di dunia Pendidikan
RSS
 

Kompetensi Guru – Oleh Riyanto

22 Feb

a. Pengertian kompetensi guru
Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Mc. Ashan dalam E. Mulyasa, (2004, hal. 34) mengemukakan bahwa, kompetensi “…….is a knowledge, skills and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the exent. He or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors” (dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik baiknya). Sejalan dengan itu, Finch & Crankilton (1879;22) dalam Mulyasa, mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Disini kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai jenis pekerjaanya.
Broke dan Stone (1975) mendeskripsikan kompetensi sebagai Descriptive of qualitative natur of teacher behavior apperas to be entirely meaningful (Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti). Competency as a ration performance witch satisfactorily meets the objective for a desired condition (Charles E. Johnson, 1974).
Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. The State of legally competence or qualified (mc. Leod 1998). Keadaan berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.
Adapun kompetensi guru (teacher competency) is the ability of a techer to responsibility perform has or her duites appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.
Dengan gambaran pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya. Selanjutnya beralih pada istilah “profesional”. Profesional berarti a vocation on which professional knowledge of some department a learning science is used in its applications to the of other or in the practice of an art found it.
Kata “profesional” berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperolah pekerjaan lain. (Dr. Nana Sudjana, 1988).
Dalam pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan profesinya. Atas dasar pengertian ini, dapat dimaknai bahwa pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khususnya dalam melaksanakan profesinya.
Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga dia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang (guru) yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. (Agus F. Tamyong, 1987). Seorang guru adalah seorang profesional. Seorang profesional adalah orang yang memenuhi kriteria (kompetensi) yang dipersyaratkan bagi seorang guru (profesi guru).
Yang dimaksud terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh pendidikan formal tetapi juga harus menguasai berbagai strategi dan teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru yang akan diuraikan berikut.
Selanjutnya dalam melakukan kewenangan profesionalnya, guru di tuntut mempunyai seperangkat kemampuan (competency) yang beraneka ragam.
Pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan (Muhibbin, 1997:229.). Johnson (dalam Usman, 1999:14) menyatakan ”competence as a ration performance with satisfactorily meets the objective for desired condition” artinya kemampuan (kompetensi) merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. McLeod (dalam Muhibbin, 1997 :2290) menyebutkan kompetensi adalah the state of being legally competen or qualifed yaitu keadaan yang berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum, sedangkan Broke dan Stone (dalam Wijaya dan Rusyan, 1994:7) menjelaskan bahwa kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti.
Menurut Barlow (dalam Muhibbin, 1997:229) kompetensi guru adalah the ability of a teacher to responsibility perform his or her duties appropriately artinya guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak bisa di lakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus menguasai betul seluk beluk pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan.
Berdasarkan uraian di atas, maka guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Mengingat tugas dan tanggung jawab guru profesional yang kompeten begitu kompleksnya, maka menurut penulis bahwa seorang guru yang profesional dituntut untuk memiliki persyaratan :
(1) Keterampilannya yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
(2) Penekanan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
(3) Adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai
(4) Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dan pekerjaan yang dilaksanakannya
(5) Kemungkinan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
(6) Adanya kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
(7) Adanya klien/obyek layanan yang tetap, seperti guru dengan muridnya.
(8) Diakuinya oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
Atas dasar persyaratan tersebut, maka jabatan profesional guru harus ditempuh melalui jenjang pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan itu. Jadi kualitas guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus ditinjau dari kemampuan profesionalnya, baik kemampuan profesional secara umum maupun khusus. Kemampuan profesional umum untuk seorang guru dapat dilihat dari penguasaannya terhadap ilmu pendidikan dan keguruan terutama yang relevan dengan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama, menguasai isi dan bahan kajian, menguasai didaktik metodik, terampil menerapkan kurikulum, terampil mengajar murid dengan metode yang bervariasi, terampil mengelola kelas, menilai dan membantu program kegiatan belajar mengajar, mempunyai prakarsa, sikap kreatif dan inovatif, serta mampu mengembangkan dirinya secara profesional.
Berdasarkan indikator tersebut terdapat lima tingkatan kemampuan guru yaitu guru pemula (Novice), guru pemula terampil (Advance Beginner), guru mampu (Competent Teacher), guru mahir (Proficient Teacher) dan guru ahli (Expert Teacher). (Anwar Yasin, 1998:101-103). Teaching performance adalah apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru yang dapat diamati. Sedangkan teaching competence menurut Dill adalah pengetahuan yang dimiliki oleh guru, termasuk pengetahuan tentang pengajar (paedagogik), bidang yang ia ajarkan, dan hal-hal yang berkaitan dengan sosiokultural. Dill juga menambahkan bahwa kompetensi guru merupakan suatu proses generatif. (Dill, Nancy L, 1999) Implementasinya di samping dari kemampuan profesional umum, kualitas guru Sekolah Menengah Pertama dapat juga ditinjau dari kemampuan profesional khusus, yang meliputi penguasaan isi bahan pelajaran dari setiap mata pelajaran di sekolah menengah disemua kelas, mampu menjabarkan GBPP tiap mata pelajaran menjadi program semester, mampu mempersiapkan rencana mengajar, sehingga guru selalu siap mengajar di semua kelas, mampu mengajar murid, baik secara klasikal maupun individual dengan menggunakan metode yang sesuai dan bervariasi untuk setiap mata pelajaran, mampu membantu murid dalam belajar, menggunakan sarana belajar termasuk buku dan perpustakaan, mampu memantau dan menilai program, proses dan hasil belajar peserta didik untuk setiap mata pelajaran. Berdasarkan aspek pengukuran tersebut, maka tingkatan kemampuan guru antara lain kemampuan menceritakan (telling), kemampuan menjelaskan (explaining), kemampuan memperagakan (demonstrating), dan kemampuan melibatkan murid untuk mengalami (experiencing). (Anwar Yasin, hh. 106-109)
Apabila kemampuan-kemampuan yang dijelaskan di atas dimiliki oleh guru khususnya guru SMP, maka kemampuan tersebut sebagai wujud dari kompetensi guru dalam mengajar, dan kompetensi penguasaan keterampilan dan pengetahuan tersebut memperoleh dukungan dari pemikiran Godfrey yang mengatakan bahwa “When one can finish work skillfully pursuant to science standard. Hence them refered as competence”, (Ince D Godfrey, 1998: h. 331) bila seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan secara terampil berdasarkan standar ilmu, maka mereka disebut kompeten.
Berikutnya menurut Uzer, bahwa “Kompetensi guru berarti suatu wewenang yang dikaitkan dengan ruang lingkup suatu jabatan atau posisi sebagai guru dan kompetensi guru merupakan landasan dalam rangka mengabdikan profesinya , jadi guru yang kompeten dan yang baik adalah tidak hanya mengetahui, tetapi betul-betul melaksanakan apa yang menjadi tugas perannya” (Uzer Usman, 1995: h.15) Dengan demikian kompetensi merupakan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas sebagai guru yang profesional.
Selanjutnya dalam pandangan Holland, mengatakan bahwa “a competency as rational performance which satisfactorily meets obyective for desire condition”. (Riche T Holland, 1999: h. 203) Maknanya, suatu kompetensi yang rasional dapat mempertemukan antara kepuasan dan sasaran sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Kata kepuasan berarti adanya rasa senang atas pekerjaan yang dilaksanakan, oleh sebab itu kompetensi guru harus disertai dengan kesadaran melakukan sehingga diperoleh rasa senang.
Jadi berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas kompetensi adalah kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal atau kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya, artinya guru yang piawai dalam melaksanakan profesinya dapat disebut sebagai guru yang kompeten dan profesional. Artinya kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Jadi dari beberapa pendapat dan pengertian di atas analisisnya memperoleh kesimpulan bahwa guru yang dinilai kompeten secara profesional apabila:
a. Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik- baiknya.
b. Guru tersebut mampu melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil.
c. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan sekolah.
d. Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses belajar mengajar dalam kelas.
Lain lagi dengan Mc Leod, di samping berarti kemampuan, kompetensi juga berarti ….the state of being legally competent or qualified. (Muhibbin Syah, 2002: h.182) Yakni keadaan berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kompetensi berasal dari kata kompeten yang berarti ‘cakap’ atau mengetahui dan kata kompetensi itu sendiri memiliki arti “ kemampuan menguasai gramatikal suatu bahasa secara abstrak atau batiniah”. (DIKBUD, 1999: h. 378) Dan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal.” (WJS Purwadarminta, 1986:h. 516)
Dari pengertian-pengertian kompetensi tersebut istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna, baik kesesuaian ataupun pengembangannya, pada kesesuaiannya sebagaimana Broke dan Stone katakan yang dikutip oleh Uzer Usman bahwa kompetensi merupakan gambaran hakekat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti, yang mengartikan bahwa kompetensi merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.” (Uzer Usman, h. 4.) Sedangkan kompetensi guru (teacher competency), menurut Barlow ialah The ability of a teacher to responsibly perform his or her duties appropriately, (Muhibin Syah, h.229) artinya kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Tentunya kelayakan kemampuan, kewajiban dan tanggung jawab tersebut sangat erat kaitannya dengan peran, fungsi dan tugas guru yang memperoleh predikat profesional yang kompeten.

a. Kompetensi Guru
Seseorang yang dikatakan kompetensi adalah seseorang yang telah memenuhi dengan baik sejumlah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dipersyaratkan untuk melaksanakan tugas profesinya secara profesional. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi personal, sosial, dan profesional. Masing-masing kompetensi dijelaskan sebagai berikut.
1). Kompetensi Personal
a). Kemampuan Pribadi
(1) Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila
(2) Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
b). Kemampuan berkomunikasi
(1) Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan personal.
(2) Berinteraksi dengan masyarakat untuk pelaksanaan misi pendidikan
c). Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
(1) Membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar.
(2) Membimbing murid yang berkelainan dan berbakat khusus.
d). Melaksanakan administrasi sekolah
(1) Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
(2) Melaksanakan administrasi sekolah
e). Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
(1) Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah.
(2) Melaksanakan penelitian sederhana
2). Kompetensi Profesional
Kemampuan profesional ini meliputi hal-hal berikut:
a) Menguasai landasan kependidikan.
(1) Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
(2) Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat.
(3) Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
b) Menguasai bahan pengajaran
(1) Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah
(2) Menguasai bahan pengayaan.
c) Menyusun program pengajaran.
(1) Menetapkan tujuan pembelajaran,
(2) Memilih dan mengembangkan bahan pengajaran,
(3) Memilih dan mengembangkan startegi belajar mengajar,
(4) Memilih dan mengembangkan media pengajaran yangsesuai,
(5) Memilih dan memanfaatkan sumber belajar.
d) Melaksanakan program pengajaran
(1) Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat.
(2) Mengatur ruangan belajar.
(3) Mengelola interaksi belajar mengajar.
e) Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
(1) Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran.
(2) Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan

b. Peran, fungsi dan tugas guru kompeten
Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas, dalam bentuk pengabdian. Apabila kita kelompokan terdapat tiga jenis tugas guru, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas kemasyarakatan. Guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar kependidikan. Itulah sebabnya jenis profesi ini paling mudah terkena pencemaran.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, melatih, dan membimbing. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada tugas dalam bidang kemanusiaan. Guru berperan sebagai orang tua kedua di sekolah. Oleh sebab itu, guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua yang memiliki kasih sayang, perhatian, dan memfasilitasi kebutuhan siswa. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya dalam belajar.
Tugas guru lainnya adalah sebagai pembimbing. Guru harus mampu membantu siswa untuk mencari dan menentukan jati dirinya. Belajar adalah untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be). Cita-cita adalah harapannya. Tugas guru mengantar siswa untuk meraih cita-citanya.
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.
Tugas dan peranan guru tidak terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakekatnya merupakan komponen strategis yang memilih peranan yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan aktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini.
Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa di tengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat mengadaptasikan diri.
Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia pembangunan. Dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah masyarakat.
Sejak dulu, dan mudah-mudahan sampai sekarang, guru menjadi panutan masyarakat. Guru tidak hanya diperlukan oleh para murid di ruang-ruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat lingkungannya dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Tampaknya masyarakat mendudukan guru pada tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat, yakni didepan memberikan suri tauladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberikan dorongan dan motivasi, (ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani).
Kedudukan guru yang demikian itu senantiasa relevan dengan zaman dan sampai kapan pun diperlukan. Kedudukan seperti itu merupakan penghargaan masyarakat yang tidak kecil artinya bagi para guru, sekaligus merupakan tantangan yang menuntut prestise dan prestasi yang senantiasa terpuji dan teruji dari setiap guru, bukan saja di depan kelas, tidak saja di batas-batas pagar sekolah, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat.
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, perkembangan baru terhadap pandangan terhadap belajar-mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal.
Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles of Students Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencanaan, supervisor, motivator dan konselor. Mulyasa (2006: 37-65) mengemukakan bahwa peran guru meliputi guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator pengawet, dan kulminator. Sehubungan dengan hal tersebut, di bagian ini hanya akan dikemukakan peran guru dalam pembelajaran yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian ini, antara lain.
1. Guru sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya (Mulyasa, 2006:37). Guru harus memiliki standar kualitas pribadi yang dipersyaratkan sebagai seorang pendidik. Sekurang-kurangnya seorang guru harus memiliki tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Tanggung jawab meliputi tanggung jawab moral dan tanggung jawab akademik. Tanggung jawab moral meliputi tanggung jawab terhadap nilai-nilai yang ada dan hidup di sekolah dan masyarakat. Tanggung jawab akademik meliputi kompetensi pedagogik dan penguasaan materi pelajaran.
Seorang guru harus memiliki wibawa dan aura kebijakan. Seorang guru harus memahami, penguasai, mengimplikasikan, mengembangkan, dan menjadikan nilai-nilai kehidupan, seperti Spiritual Quation (SQ), Emotion Quation (EQ), Intelligence Quation (IQ), personal Quation (PQ), Social Quation (ScQ). Artinya, seorang guru harus memiliki berbagai kelebihan daripada orang biasa. Kelebihan tersebut antara lain di bidang keagamaan, olah rasa, pengetahuan, kepribadian, dan kecakapan sosial.
2. Guru sebagai Pengajar
Tugas dan tanggung jawab guru yang pertama dan utama adalah melaksanakan pembelajaran. Melalui pembelajaran inilah para siswa memperoleh pengetahuan, mempelajari nilai-nilai, dan kecakapan tertentu.
Perkembangan teknologi komunikasi telah mencoba menggeser peran dan tugas guru. Namun, sampai hari ini, belum mampu menggesernya. Ada satu hal yang tidak dimiliki teknologi tersebut, yaitu roh. Pelajar adalah individu-individu yang memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pelayanan pendidikan adalah pelayanan individual yang diselenggarakan dalam bentuk kelompok (klasikal). Untuk memahami, mengakses karakteristik individu yang tidak permanen tersebut, dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan karakteristik individu tersebut dibutuhkan roh. Roh dan nalar yang ada dalam diri guru merupakan kesempurnaan guru dalam berprofesi. Kemajuan teknologi hanya dapat digunakan untuk hal tertentu, materi tertentu, dan kondisi tertentu sebagai media pembelajaran efektif.
Guru sebagai pengajar dituntut untuk memiliki komptensi akademik dan pedagogik. Guru bertindak sebagai pentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kompetensi ini terimplikasikan dalam proses pembelajaran yang meliputi kemampuan guru merancang, melaksanakan, dan menilai/mengevaluasi.
Salah satu yang harus diciptakan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar terus menerus. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, maksudnya agar apa yang disampaikannya itu betul-betul dimiliki oleh anak didiknya.
Juga seorang guru mampu dan terampil dalam merumuskan TPK, memahami kurikulum, dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dalam memberikan informasi benar kepada kelas. Sebagai pengajar ia juga membantu perkembangan anak didik untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan. Akhirnya seorang guru akan dapat memainkan peranannya sebagai pengajar dengan baik bila ia menguasai dan mampu melaksanakan keterampilan-keterampilan mengajar.
3. Guru sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey) bagi para siswanya dalam upaya mencapai kompetensi (Mulyasa, 2006:40). Sebagai pembimbing seorang guru harus mempunyai kompetensi (1) mengidentifikasi kondisi dan kebutuhan siswa, (2) merencanakan dan mengelola partisipasi siswa dalam pembelajaran baik fisik maupun mental, (3) merencanakan dan memberikan pembelajaran bermakna bagi kehidupan siswa, dan (4) merencanakan dan melaksanakan penilaian pembelajaran.
1. Guru sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran membutuhkan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik. Untuk maksud tersebut diperlukan pelatih yang profesional, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing.
Pelatihan yang dilakukan harus memperhatikan kompetensi dasar dan juga materi standar dengan tetap memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Guru harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai sebagai pelatih yang profesional yang mampu mengantar siswa yang dilatihnya mencapai prestasi terbaiknya.
2. Guru sebagai Pengelola Kelas
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (lerning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar berjalan terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan kegiatannya sendiri. Siswa harus belajar melakukan self control dan self activity melalui proses bertahap. Sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efesien serat hasil optimal. Sebagai manajer lingkungan belajar, guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori belajar-mengajar serta teori perkembangan serta kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.

3. Guru sebagai Evaluator
Evaluator atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang penting dan paling kompleks karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan. Penilaian merupakan proses menetapkan efektivitas program pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa. Penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketetapan atau keefektifan metode mengajar. Tujuan lain dari penilaian di antaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya dengan penilain guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok siswa yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik dikelasnya jika di bandingkan dengan teman-temannya.
Dengan penelaahan pencapaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan, atau sebaliknya. Jadi, jelaslah bahwa guru mampu dan terampil melaksanakan penilaian karena dengan penilaian, guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.
Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus-menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar selanjutnya. Dengan demikian belajar mengajar akan terus menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil optimal.
Pandangan umum tentang peran, fungsi dan tugas guru dalam proses pembelajaran bidang studi tertentu merupakan salah satu kompetensi guru dalam kesatuan kemampuan pribadi. Sehubungan dengan hal tersebut Natawidjaja dan Surya yang dikutip oleh Soetjipto, mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam menerapkan kompetensi keguruan dalam membimbing proses pembelajaran, yaitu:
(1) perlakuan siswa didasarkan atas keyakinan bahwa siswa memiliki potensi untuk dikembangkan, (2) sikap positif dan wajar terhadap siswa, (3) perlakuan hangat, ramah, rendah hati dan menyenangkan, (4) pemahaman siswa secara empati, (5) penghargaan martabat siswa secara individu, (6) penampilan secara asli tidak berpura-pura, (7) kongkrit dalam menyatakan diri, (8) menerima siswa apa adanya, (9) perlakuan secara permisif, (10) peka terhadap perasaan siswa, (11) mengembangkan siswa lebih dewasa, (12) penyesuaian diri dalam keadaan khusus. (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1994: hh. 102-103)
Berdasarkan pernyataan diatas bahwa peran , tugas dan fungsi guru dalam proses pembelajaran berarti adalah menciptakan serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu sehubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembanagn siswa yang menjadi tujuannya. Oleh sebab itu guru dituntut memiliki perasaan menghargai, tidak pilih kasih, tidak curiga, selalu memiliki hati bersih dan mau menolong dalam menjalankan tugasnya, dengan kata lain ia harus profesional dalam menjalakan tugas dan kewajibannya, seperti dikatakan sebelumnya bahwa profesional guru mengandung pengertian yang meliputi unsur-unsur kepribadian, keilmuan dan keterampilan .
Secara umum teori kompetensi yang diimplementasikan dalam kompetensi guru adalah sebagai pembentuk utama calon warga masyarakat yang baik di bidang tertentu. (W. James Popham dan Evi L. Baker, 1992: h. 1) Dalam arti bebas, bahwa kompetensi adalah kinerja rasional yang diwujudkan untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam kondisi yang dibutuhkan. Bila dianalisis lebih mendalam dari pandangan-pandangan tersebut di atas, maka kompetensi menyangkut masalah standar ilmu pengetahuan, kemampuan dan keterampilan individu, kinerja, dan masyarakat/lembaga dalam kondisi tertentu.
Secara general atau umum, kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan tugas mengajar yang dilihat dari hasil belajar siswa, peran dan tanggung jawab guru, dan hasil kerja yang berkenaan dengan proses pelaksanaan pembelajaran secara optimal, yang dapat mengubah perilaku positif dari siswanya melalui pengalaman belajar yang didukung oleh lingkungan, sarana dan prasarana pembelajaran.
Dari pengertian kompetensi tersebut memiliki unsur: rational, performance, satisfactory, objective dan desire conditions, yang memiliki makna bahwa rational berarti guru mempunyai arah dan tujuan (apa dan mengapa guru berbuat). Guru sudah mempertimbangkan melalui akalnya memilah beberapa alternatif strategi pembelajaran dan memilih salah satu untuk dilaksanakan. Performance atau kinerja tidak hanya bagaimana berperilaku yang dapat diamati, tetapi juga melibatkan hal yang tidak dapat diamati seperti memanipulasi ide, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan. Saticfactory suatu tindakan untuk mewujudkan kompetensi yang memadai untuk mencapai tujuan pembelajaran, hal tersebut harus dapat menghindari implikasi kompetensi yang a highly proficient act (tindakan kecakapan yang berlebihan). Objective, yaitu suatu kekhususan atau suatu yang menunjukkan hasil yang diharapkan, sedangkan desire condition menggambarkan suatu keadaan atau eksistensi terhadap kebutuhan yang mungkin akan menjadi perilaku yang berubah pada individu atau kelompok dari suatu produk atau ide, jawaban dari suatu pertanyaan, pemecahan masalah, rencana atau stratetgi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan lain sebagainya. (Oemar Hamalik, 1989: hh. 18-19)
Dengan demikian guru yang kompeten dan profesional adalah guru yang selalu mau mengembangkan dirinya guna mengikuti kemajuan jaman. Menurut Cheppy guru yang baik sangat tergantung kepada persepsi masing-masing orang yang terlibat dalam penyelengaraan pendidkan. (Cheppy Harry Cahyono, 1996: h. 9) Persepsi kepala sekolah bisa saja berbeda dengan persepsi orang tua siswa yang satu dengan yang lain tentang guru yang baik, Cheppy mengutip pendapat Gallup bahwa di Amerika Serikat ada kesepakatan tentang guru yang baik, yaitu;
(1) memiliki kemampuan berkomunikasi, memahami dan mengungkapkan sesuatu; (2) sabar; (3) disiplin; (4) memilki karakter moral yang tinggi; (5) ramah, berkepribadian baik, memiliki rasa humor (6) dedikasi dan antusiasme terhadap profesi mengajar; (7) mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada siswa-siswanya; (8) pandai; dan (9) memiliki kepedulian terhadap siswa-siswanya. (Ibid, h. 2)
Lebih lanjut Garchia berkomentar bahwa kompetensi guru yang terkait dengan tugasnya, adalah kompetensi: 1) dasar, untuk kebutuhan siswa, 2) umum, untuk persyaratan yang dimiliki oleh umum, 3)teknik, berkaitan landasan mengajar, 4) komunikasi, untuk berinteraksi, 5) spesifik, yang berkaitan dengan proses pembelajaran. (Pedro K Garchia, 1997: hh. 216-222) Lima jenis kompetensi tersebut secara menyeluruh menggambarkan betapa beratnya perangkat guru yang kompeten. Karena guru dituntut adanya perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam belajar mengajar, ia bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaranan dan menguasai tujuan –tujuan pendidikan yang harus dicapai.
Sehubungan dengan peran, fungsi dan tugas guru tersebut, lebih dalam untuk menjalankan kewenangan profesionalnya, dapat disimpulkan bahwa guru yang kompeten dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan yang bersifat psikologis, yang meliputi :
1). Kompetensi kognitif guru yang mengandung bermacam-macam pengetahuan baik yang besifat deklaratif (pengetahuan yang relative statis normative dengan tatanan yang jelas dan dapat diungkapkan dengan lisan) maupun yang bersifat prosedural (pengetahuan praktis dan dinamis yang mendasari ketrampilan melakukan sesuatu yang bersemayam dalam otak).
2). Kompetensi afektif guru yang meliputi fenomena perasaan dan emosi (sikap dan perasaan diri) .
3). Kompetensi Psikomotor Guru yang meliputi keterampilan dan kecakapan yang bersifat jasmaniah.
Dari analisis kompetensi guru tersebut di atas memiliki unsur: rational, performance, satisfactory, objective dan desire conditions, yang memiliki makna bahwa rational berarti guru mempunyai arah dan tujuan (apa dan mengapa guru berbuat). Guru sudah mempertimbangkan melalui akalnya memilah beberapa alternatif strategi pembelajaran dan memilih salah satu untuk dilaksanakan. Performance atau kinerja tidak hanya bagaimana berperilaku yang dapat diamati, tetapi juga melibatkan hal yang tidak dapat diamati seperti memanipulasi ide, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan. Saticfactory suatu tindakan untuk mewujudkan kompetensi yang memadai untuk mencapai tujuan pembelajaran, hal tersebut harus dapat menghindari implikasi kompetensi yang a highly proficient act (sukap mahir yang berlebihan). Objective, yaitu suatu kekhususan atau suatu yang menunjukkan hasil yang diharapkan, sedangkan a desire condition menggambarkan suatu kedaan atau eksistensi terhadap kebutuhan yang mungkin akan menjadi perilaku yang berubah pada individu atau kelompok dari suatu produk atau ide, jawaban dari suatu pertanyaan, pemecahan masalah, rencana atau strategi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan lain sebagainya. (Ohamalik, h. 20) Lebih lanjut W james dan Evi L Baker menyatakan: ”Secara umum teori kompetensi yang diimplementasikan dalam kompetensi guru adalah sebagai pembentuk utama calon warga masyarakat yang baik dibidang tertentu”. (Popham dan Baker, h.1) Dalam arti kata, bahwa kompetensi adalah kinerja rasional yang diwujudkan untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam kondisi yang dibutuhkan. Bila dianalisis lebih dan mendalam dari pandangan–pandangan tersebut diatas, maka kompetensi menyangkut masalah standar ilmu pengetahuan, kemampuan dan keterampilan individu, kinerja masyarakat/lembaga dalam kondisi tertentu. Beberapa persyaratan yang dapat mendukung kompetensi guru, menurut Raka Joni yang dikutip oleh Oemar Hamalik, perangkat kompetensi yang digali dari kurikulum sekolah guru adalah kemampuan dalam:
(1) mengembangkan pribadi, (2) menyusun program pengajaran, (3) mengembangkan alat dan bahan pelajaran, (4) melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan sumber lingkungan, (5) berinteraksi dengan siswa, masyarakat dan kalangan pendidik, (6) melaksanakan program yang telah dibuat dengan mengunakan metode, teknik dan alat yang sesuai, (7) menilai hasil maupun proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, (8) mengidentifikasi kesulitan dan memberikan bimbingan kepada siswa yang menghadapi kesulitan, (9) melaksanakan tugas administrasi, dan (10) melakukan penelitian yang sederhana. (Oemar Hamalik, hh. 27-29)
Kesepuluh jenis persyaratan kemampuan yang menggambarkan instrumen penting dalam menilai kompetensi guru tersebut, tentunya akan menjadi sempurna bila seluruhnya dapat dilaksanakan dengan baik, tetapi dalam pelaksanaan kompetensi guru tersebut hampir tidak mungkin dapat dilakukan semuanya dengan sempurna, karena kompetensi guru tidak hanya bersumber pada kemampuan individu guru saja tetapi banyak faktor di luar kemampuan pribadi yang terlibat didalamnya.
Seperti dikatakan sebelumnya, bahwa jabatan yang profesional, untuk menjadi guru jelas diperlukan keahlian, kecakapan yang khusus. Tidak semua orang dapat menduduki jabatan guru bila tidak mempunyai keahlian untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru berarti mampu untuk menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan dan juga harus menguasai ilmu-ilmu keguruan dan ketrampilan dasar mengajar sebagai senjata utama untuk mengajarkan keahliannnya pada anak didiknya.
7. Kompetensi Ketrampilan Dasar Mengajar
Keterampilan mengajar termasuk dalam kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang berarti ketrampilan dan kemampuan guru mengajar merupakan manisfestasi kompetensi guru mengajar. Ketrampilan dan kemampuan guru mengajar merupakan komponen inti dari kemampuan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Komponen pengetahuan yang berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap dan nilai tersebut dibentuk secara bertahap mulai dari modal ketrampilan dasar mengajar dilanjutkan mengajar dilanjutkan menjadi guru untuk memperoleh pengalaman mengajar sampai menjadi kompeten dibidangnya, tetapi apapun kompetensinya, guru tetap harus memiliki ketrampilan dasar mengajar yang didapat dari latar belakang pendidikannya dan diimplementasikan dalam tugas guru mengajar untuk memperoleh pengalaman (skill base teach got from education background to teaching duty implementation and the teacher to get experience). (Dale L. Colombia, 2000: hh. 531-532)
Kompetensi dasar professional yang harus dimiliki oleh seorang guru seperti yang dijabarkan dalam Pedoman Pelaksanaan Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan (P4SPTK) di Indonesia mengemukakan 10 kemampuan dasar mengajar bagi guru yang profesional yaitu:
(1) Menguasai bahan; (2) Mengelola program belajar mengajar; (3) Mengelola kelas; (4) Menggunakan media/sumber; (5) Menguasai landasan-landasan kependidikan; (6) Mengelola interaksi belajar mengajar; (7) Menilai prestasi siswa untuk kependidikan pengajaran; (8) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan; (9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah; (10) Memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. (W. Gulo, 2002: hh. 37-38)
Apabila kita pelajari secara mendalam, maka kompetensi-kompetensi profesional guru tersebut di atas dianalisis secara mendalam, maka dapat disimpulkan menjadi 4 (empat) kemampuan yakni :
a. Guru harus dapat dan mampu untuk mengelola kegiatan belajar mengajar sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan .
b. Guru harus memiliki dasar pengetahuan tentang tujuan pendidikan di Indonesia.
c. Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan dan penyuluhan.
d. Guru harus memiliki pengetahuan dan bahan yang baru mengenai ilmu yang disajikan, serta memiliki kemampuan untuk mengadministrasikan masalah-masalah pendidikan .
Dalam pandangan Holland, mengatakan bahwa “ a competency as rational performance which satisfactorily meets obyective for desire condition”. (Riche T Holland, h. 203) Maknanya, bahwa suatu kompetensi yang rasional dapat mempertemukan antara kepuasan dan sasaran sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
Sintesis:
Berdasarkan seluruh hasil analisis di atas, maka dapat disimpulkan sebagai sintesis bahwa yang dimaksud dengan kompetensi guru mengajar dalam penelitian ini adalah kemampuan guru menjalankan program pengajaran yang direalisasikan dalam bentuk kemampuan dasar mengajar guna mencapai keberhasilan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas, meliputi dimensi dan indikator, sebagai berikut; 1) dimensi tugas guru, yang terdiri dari indikator-indikator; a) peranan guru, b) fungsi tugas, 2) dimensi kemampuan dasar mengajar, terdiri dari indikator-indikator; a) kemampuan mengelola kegiatan pembelajaran, b) tujuan pendidikan sekolah, c) bimbingan dan penyuluhan, d) pengadministrasian masalah-masalah pendidikan, 3) dimensi implementasi keterampilan kompetensi guru mengajar, terdiri dari indikator-indikator; a) bertanya, b) memberikan penguatan, c) mengadakan variasi, d) menjelaskan, e) membuka dan menutup pelajaran, f) membimbing diskusi kelompok kecil, g) mengelola kelas dan h) mengajar kelompok kecil dan perorangan, i) menggunakan metode dan media, j) melakukan evaluasi.

3. Konsep Diri Guru
a. Pengertian Konsep Diri
Awalnya seseorang dilahirkan tanpa mengenali dirinya, kemudian belajar untuk mengenali dirinya dan menjadi pengenal, kemudian ia akan belajar untuk dikenal (William James,1980 Mengukur Konsep Diri Anak, Hal 47). Penggolongan mengenai pembentukan konsep diri
1. Pola pandang diri subyektif (subjective Self)
Cara orang mengenali dirinya sendiri, dengan gambaran-gambaran dir (self image) seperti bentuk wajah dan tubuh yang dicermati ketika bercermin, persepsi diri (umumnya didapat dari bentuk komunikasi terhadap diri atau pengalaman bersosialisai dengan orang).
2. Bentuk dan bayangan tubuh(Body image)
Berbeda dengan proses sebelumnya, dimana seseorang yang melihat yang melihat bayangan tubuhnya yang nyata dicermin, kemudian akan mempengaruhi persepsi dirinya dalam mengenali dirinya sendiri.
3. Perbandingan Ideal (The Ideal Self)
Salah satu proses pengenalan diri adalah membandingkan diri dengan sosok ideal yang diharapkan oleh seseorang
4. Pembentukan diri secara sosial (The Sosial Self)
Pengertioan dari proses pembentukan diri adalah melihat diri seperti yang dirasakan orang lain

Seorang pakar psikologi Shalvelson memebentuk skala-skala konsep diri. Kesadaran terhadap diri sendiri terdiri dari beberapa macam pengaruh diantaranya :
1. Pengaruh keterbatasan ekonomi
2. Pengaruh kelas sosial
3. Pengaruh Usia terhadap konsep diri (Amaryilia Puspasari, 2007: hal 24)
Luft (1969) menggambarkan diagram pengenalan diri yang muncul pada seseorang individu ada 4 jenis kotak yang merupakan suatu tahapan proses mengenali diri yang ada pada seseorang.
Diketahui oleh diri sendiri Tidak diketahui oleh diri
Diketahui oleh orang lain 1.Bilik yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain (Free to self Area) 2.Bilik yang tidak diketahui oleh diri sendiri tapi diketahiui oleh orang lain (Blind to self Area)
Tidak diketahui orang lain 3.Bilik yang diketahui oleh diri sendiri namun orang tidak mengetahuinya. (Hidden Area) 4. Bilik yang tidak diketahui orang lain dan diri sendiri. (Unknow self area)

Herbert W.Marsh yang berasal dari Universitas Of Western Sidney dibuat atas dasar teori Shalvelson mengukur konsep diri mengenai konsep diri :
1. Skala kemampuan fisik
2. Skala penampilan fisik
3. Skala pengaruh dengan lawan jenis
4. Pengaruh dengan teman sesama jenis kelamin
5. Pengaruh dengan orang tua
6. Sikap jujur dan percaya
7. Kesetabilan emosi
8. Konsep diri matematika
9. Konsep diri verbal
10. Konsep diri umum

Konsep diri (self concept) ialah gambaran diri sendiri yang bersifat menyeluruh terhadap keberadaan diri seseorang, konsep diri bersifat multi aspek yaitu meliputi 5 aspek seperti :
(1) aspek fisiologis,
(2) psikologis,
(3) psikososiologis,
(4) psiko-spiritual maupun,
(5) psiko etika dan moral.

b. Konsep Diri Guru
Konsep diri adalah cara pandang seseorang mengenai diri sendiri untuk memahami keberadaan diri sendiri maupun orang lain. Blasi dan Glodis dan para ahli psikologi perkembangan menyebut pemahaman terhadap keberadaan diri sendiri sebagai self-existensial. Pemahaman terhadap diri sendiri berpengaruh erat dengan pemahaman terhadap karakteristik pribadi secara objektif terhadap diri sendiri, atau yang disebut sebagai kategori diri (self kategorial) (Agoes Dariyo, 2007: Hal 56)
Konsep diri meliputi lima unsur yaitu
1. konsep diri,
2. evaluasi,
3. penerimaan diri,
4. harga diri
5. efikasi diri (Agoes Dariyo, 2007. Hal 68).

Menurut Symond, bahwa konsep diri sebagai gambaran mental mengenai keadaan dirinya sendiri yang memiliki unsur- unsur yaitu :
(1) Bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya,
(2) Bagaimana seseorang menilai dirinya,
(3) Bagaimana individu menyempurnakan dirinya (Sumadi Suryabrata,1983: hal 298)

Song dan Nattie, mengklasifikasikan konsep diri menjadi lima belas yang meliputi sebagai berikut:
(1) konsep diri utama
(2) konsep diri akademik
(3) konsep diri sosial
(4) penampilan diri
(5) konsep diri kelas
(6) konsep diri kemampuan
(7) konsep diri prestasi
(8) konsep diri teman sebaya
(9) konsep diri keluarga
(10) konsep diri fisik
(11) kepercayaan pada diri sendiri
(12) konsep diri matematika
(13) konsep diri bahasa
(14) konsep diri ilmu sosial
(15) konsep diri ilmu alam (Jonh Hattie1984, hal:1270)

Konsep diri sangat penting dalam menentukan tujuan yang dirumuskan, sikap yang dipegang, tingkah laku yang diprakarsai, dan respon yang dilakukan terhadap orang lain dan lingkungan-nya. Sedangkan Leonettii, mengemukakan tentang konsep diri yang dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: kepercayaan diri dan penghargaan diri. Kepercayaan diri adalah menyangkut kepercayaan seseorang terhadap kesanggupannya dalam melakukan sesuatu atau dalam bertingkah laku sedangkan penghargaan diri adalah mnyangkut tentang keinginan seseorang tentang dirinya (Robert Leonettii1980: hal 16).
Menurut Nancy Shiffler menemukan korelasi konsep diri dengan prestasi akademis dan perilaku yang diinginkan adalah positif dan signifikan (Nancy Shiffler,Judich-Linch-Sauer,Larrraine Nadelman,1977: hal 340). Lebih lanjut Pottebaum, yang meneliti pengaruh kausal antara konsep diri dengan prestasi akademis, menemukan korelasi sebesar 0,101 sampai 0,123 dan korelasinya adalah signifikan (Sheila M.Pottebaum,Timothy Z. Keith, Stewart W Ehly.1986: hal 143). Hal senada disampaikan Theresa J. Jordan, dimana konsep diri dibedakan menjadi tiga yaitu ,konsep diri global, konsep diri akademis, konsep diri kebutuhan akan berkompetisi akademis, dan ditemukan korelasi positif dan signifikan antara konsep diri dengan penampilan(performance) akademis sesesorang pada pemuda berkulit hitam. Menurut John R.Nc.Carity dan Butts menemukan bahwa tingkah laku guru mempengaruhi prestasi siswa secara tidak langsung.
Menurut Calhoun dan Acocella Konsep Diri memiliki tiga dimensi yaitu :
a. Pengetahuan diri
yakin apa yang diketahui individu tentang dirinya misalnya: usia, jenis kelamin, pekerjaan pendidikan, kegemaran, cita-cita dan sebagaimya.
b. Pengharapan diri
(diri ideal) merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk menuju masa depan dan memandu kegiatan dalam pengalaman hidupnya.
c. Penilaian diri
setiap individu selalu menilai dirinya sendiri baik berpengaruh dengan pengharapan maupun cita-cita, hasil penilaian diri akan menimbulkan penghargaan terhadap dirinya sendiri.
Menurut Jalaludin Rahmat bahwa orang memiliki konsep diri positip ditandai dengnan lima hal yaitu :
(1) yakin akan kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
(2) merasa setara dengan orang lain
(3) menerima pujian tanpa rasa malu
(4) menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetuju secara umum.
(5) Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek pribadi yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Sedang konsep diri negatip bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dulu keengganan untuk bersaing dengan orang lain. Dalam berprestasi ia menganggap tidak akan berdaya dalam melawan persaingan.

Istilah konsep diri terjemahan dari kata “self concept” bersumber dari konsep teori kepribadian dalam psikologi khususnya aliran humanistic memandang manusia sebagai individu yang harus dilihat sebagai keseluruhan yang integral, khas dan terorganisir bebas dan tanggung jawab yang sadar, bebas memilh atau menentukan setiap tindakan mempunyai berbagai kebutuhan, dapat mengembangkan diri dan mempunyai potensi kreatif (E.Koeswara, 1986: hal 113-117).
Istilah ”Self –concept”, ”Self esteem ”, ”Self-worth”, “Self-acceptance” sering digunakan saling bergantian secara tidak konsisten. Kendatipun manusia memandang dirinya ,disebut harga diri (Self esteem) atau konsep diri seutuhnya (general self concept). (William Strein, Assessment of self concept, pi 2004 (http//www.ericfacillity.net/data-based/Eric-Digest/indek/.) Konsep diri adalah pandangan sikap individu terhadap diri sendiri seutuhnya (James F Callhoun dan John Ross 2007. P .67) Shafer dan Shoben (1998: 23) memandang konsep diri sebagai sikap terhadap diri yang muncul karena dipelajari. Lebih lanjut dikatakan Konsep Diri itu merupakan bagian dari keseluruhan ujud manusia dan di dalam diri itu tercakup pengamatan terhadap miliknya, pengertian tentang siapakah dia serta sifat dan kualitas yang merupakan pusat pengalaman dan kepentingannya.
Menurut Carl R. Rogers (1979: hal 36):
“Self-concept may be thought of as an organized configuration of perceptions of the self… it is composed of such elements as the perceptions of one’s characteristics and abilities;the percepts and concepts self in relation to others and to the environment;the value qualities which are perceived as associated with experiences and objects;and goals and ideals which are perceived as having positive or negative valence”

Menurut Hubert Bonner: “Self-esteem is largerly the individual’s reaction to other people’s opinions of himself”
1. Teori Psikoanalisis
a. Struktur Kepribadian
b. Dinamika Kepribadian
c. Pengembangan Kepribadian
2. Teori Psikologi Analitis
Kepribadian 2 alam:
a. Alam Sadar
b. Alam tak sadar
Membedakan manusia 2 tipe:
a. tipe extrovert
b. tipe introvert
3. Teori Individual Psychologie
a. Terdiri kompleks rendah diri:
- Inferiority complex
- Superiority
Individu Kelemahan diri:
- Overcompensation
b. Pendekstan Fenomenologis terhadap Konsep diri:
- Tingkah laku
- Persepsi-persepsi
- Konsep diri
- Pandangan (Hubert Bonner, 1953: hal 121)

Sedangkan menurut Harter, diri bekerja dalam suatu sistem yang disebut sistem diri (self system). Sistem diri meliputi tiga komposisi yaitu :
1. pengetahuan diri(self knowledge),
2. evaluasi diri (self evaluation) dan
3. pengaturan diri (self regulation).
Faktor yang mempengaruhi perkembangan diri, menurut Baumrind (dalam Papalia,et.al.,2004) ada 4 jenis pola asuh, yakni (1) otoriter (authoritarian), (2) permisif (permisive), (3) demokratis (authotative), dan (4) situasional (situational).
Teori-teori perkembangan diri para ahli psikologi perkembangan anak, membagi 4 pendekatan teori untuk menjelaskan perkembangan diri (self development) yaitu:
1. pendekatan perkembangan kognitif,
2. pendekatan pembelajaran lingkungan,
3. pendekatan biologi dan evolusi, dan
4. pendekatan sosio-budaya
Menurut teori perkembangan diri dari Robert Sleman perkembangan ini bersifat dinamis dan selalu berproses sejalan dengan tahap-tahap perkembangan kesadaran diri seseorang. Hal senada disampaikan oleh Albert Bandura mengemukakan teori belajar sosial (sosial learning theory) perkembangan diri seseorang dimulai dari prosese pengamatan, pemahaman dan pembelajaran dari lingkungan sosial dari pembelajaran sosial tersebut akan menumbuhkan kemampuan evaluasi diri dan pengaturan diri (Agoes Dariyo, 2007: hal 72).
Menurut Vasta pendekatan biologi dan evolusi (evolutionary and biological approach) terbagi menjadi dua teori yaitu: (1) teori kelekatan emosional dari John Bowlby (2) teori evolusi dari Charles Darwin:
a) Teori kelekatan emosional dari John Bowlby
John Bowlby menyatakan bahwa perkembangan diri bayi mulai dengan kelekatan emosional antara bayi dan ibu yang mengasuhnya.
b) Teori evolusi dari Charles Darwin
Menurut Charles Darwin bahwa pertumbuhan dan perkembangan kesadaran diri manusia dimulai dari kehidupan binatang, karena manusia berasal dari perkembangan evolusi binatang yang dimulai sejak abad yang lalu. Dalam sebuah penelitian terhadap simpanse dilakukan oleh Gordon Gallup JR (dalam Vasta,et.al.,2004) ditemukan bahwa simpanse dapat memahami kesadaran dan pengetahuan diri setelah melihat diri sendiri melalui cermin.
Pendekatan Teori Sosio-budaya, proses pembelajaran terhadap nilai-nilai, norma maupun adat-istiadat yang hidup dalam lingkungan sosio-budaya akan mempengaruhi perkembangan diri seorang anak. Anak dapat mengamati, memahami, menilai dan meniru nilai-nilai yang berlaku di dalam lingkungan sosio-budaya.
Mengembangkan Konsep diri dan harga diri anak, orang tua dapat memberikan penghargaan terhadap tindakan anak yang cenderung bermanfaat untuk kepentingan diri sendiri, misalnya bayi usia 7-8 bulan sudah dapat merangkak, memegang sendok dan mainan, dan bermain sendiri. Orang tua dapat menyampaikan pujian secara tulus bahwa anaknya pintar, pandai, cerdas atau hebat.
Teori Perkembangan kognitif (Cognitive Development Theory), Jean Piagnet, tokoh yang yakin bahwa bermain merupakan kegiatan menyenangkan bagi anak karena dapat bermanfaat untuk perkembangan kapasitas intelektual anak.
Teori-teori yang mendukung konsep diri ;
1) Teori belajar Sosial; Seorang pengikut watson B.F Skinner (1953) sependapat dengan Watson bahwa perilaku manusia selalu dikendalikan dari faktor luar (faktor lingkungan, rangsangan dan stimulus). Ia mengatakan jika memberikan ganjaran positip (positive Reinforcement), suatu perilaku akan ditumbuhkan dan dikembangkan, sedangkan jika diberi kan ganjaran negatip (negative Reinforcement) suatu perilaku akan dihambat.
Albert bandura (dalam karya-kara tahun 1977 dan 1986) mengemukakan sumber penyebab perilaku bukan hanya faktor eksternal tetapi (faktor lingkungan ) tetapi faktor internal juga (faktor kognitif)
2) Seorang psikologi dari rusia bernama Lev Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar sosial juga dapat terjadi dengan bekerja sama dengan orang yang lebih mahir (orang tua, kakak, guru, dsb)
3) Pandangan ekologik adalah Brofenbrenner (yang karyanya dipublikasikan tahun 1979-1989) berpendapat bahwa perilaku dipengaruhi oleh faktor luar.
4) Teori kognitif teori yang tergolong teori determinisme (to determine berarti menentukan artinya keadaan diri seseorang lah karena naluri, bakat, sifat atau gen)yang akan menentukan perilaku sosial seseorang. Teori intelgensi Piaget (1950-1952), seorang biolog mendefinisikan intelgensi sebagai proses kehidupan dasar yang membantu organisme menyesuaikan diri pada lingkungannya.
5) Pengembangan teori Piaget oleh Kohlberg (1955-1969) mengembangkan teori piaget bahwa untuk menjelaskan perkembangan moral, emosi dan seksual dan perkembangan sosial dan kepribadian terjadi melalui urutan-urutan yang invariant dan tahap-tahap yang jelas.
6) Teori lapangan K. Lewin (1936: 44) mengembangkan teori Gestalt menurut Lewin perilaku adalah fungsi dari keadaan diri pribadi (personality) dan lingkungan (environment).

W. James (1980), menanamkan diri cermin itu adalah ”diri publik” (Public self atau me) yang dibedakan dan diri pribadi ”atau” aku”(Private self atau I) jadi menurut james ada dua dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai objek (Objektiveself). Pemahaman diri (self understanding) adalah gambaran kognitif mengenai dirinya, dasar dan isi dari konsep diri. Percaya diri (self esteem) adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri.percaya diri juga disebut harga diri atau gambaran diri. Konsep diri (self concept) merupakan evaluasi terhadap dominan yang spesifik dari diri.
Teori Konteksual (Contexual Theory)

Nama Teori Sifat Kateristik Tokoh
Prikoanalisa Emosi
& Sosial Bermain sebagai sarana katarsis yaitu mengurangi ketegangan emosi dalam diri anak Sigmund Freud (Swiss), Erik Erikson (Denmark)
Perkembangan Kognitif Inteleksual & Sosial Bermain adalah kegaitan yang bermanfaat untuk perkembangan intelektual anak Jean Piaget (Perancis, swiss)
Konteksual Inteleksual & Sosial Bermain sebagai cara pembelajaran anak dalam konteks sosial, budaya dan sejarah masa lalu Vygotsky (Rusia)
Modulasi gugahan Emosional & fisik Anak bermain karena didorong oleh keinginan untuk memperoleh kebutuhan fisiologis Berlyne, Ellis

Teori Modulasi Gugahan (Arousal Modulation Theory). Dalam teori psikoanalisa Sigmund Freud maupun teori kognitif Jean Piaget mengakui adanya dorongan tapi dalam teori modulasi rangsangan mengakui adanya motivasi eksternal. Menurut Fein dan Ellis, bahwa seorang anak bermain motif eksternal yaitu memperoleh kebutuhan fisiologis, juga bermanfaat untuk mengatasi rasa bosan, menghilangkan perasaan tidak menentu dalam diri anak.
Tabel Indikator perilaku dari rasa percaya diri

Indikator positif Indikator Negatif
1. Mengarahkan atau mememrintahkan orang lain
2. Menggunakan kualitas suara yang disesuaikan dengan situasi
3. Mengekspresikan pendapat
4. Duduk dengan orang lain dalam aktivitas sosial
5. Bekerja secara koperatif dalam kelompok
6. Memandang lawan bicara ketika mengajak atau diajak bicara
7. Menjaga kontak mata ketika pembicaraan berlangsung
8. Memulai kontak yang ramah dengan oranng lain
9. Menjaga jarak yang sesuai antara diri sendiri dan orang lain
10. Berbicara dengan lancar hanya mengalami sedikit keraguan. 1. Merendahkan orang lain denghan cara menggoda, memberi nama panggilan dan menggosip.
2. Menggerakan tubuh secara dramatis
3. Melakukan sentuhan yang tidak sesuai atau menghindari kontak fisik
4. Memberikan alasan-alasan ketika gagal melakukan sesuatu
5. Melihat sekeliling untuk memonitor orang lain
6. Membual secara berlebihan, tentang prestasi, penampilan fisik
7. Merendahkan diri sendiri secara verbal, depresi diri
8. Berbicara terlalu keras atau tiba-tiba dengan nada suara yang dogmatis
9. Tidak mengepresikan pandangan atau pendapat terutama ketika ditanya
10. Memposisiskan diri secara submisif

Konsep Proses/gagasan Terkait Karakteristik /deskripsi
Pemahaman diri

Rasa Percaya diri dan Konsep Diri Apakah arti pemahaman diri

Dimensi-dimensi dari pemahaman diri

Apakah makna dari rasa percaya diri dan konsep diri

Mengukur rasa percaya diri dan konsep diri

Apakah beberapa domain lebih berpengaruh dibandingkan domain lain terhadap rasa percaya diri individu

Konsukensi dari rendahnya percaya diri

Meningkatnya rasa percaya diri Pemahaman diri adalah gambaran kognitif individu mengenai dirinya

dimensi-dimensi dari pemahan diri abstrak dan idealistik, terdiferensiasi, kontradiksi,
dalam diri, fluktuasi, diri nyata dari yang ideal, diri yang benar dan palsu, perbandingan sosial, kesadaran diri, melindungi diri, tidak sadar dan integrasi diri.

Rasa Percaya Diri adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri, rasa percaya diri juga disebut juga harga diri atau gambaran diri.
Konsep Diri adalah evaluasi terhadap domain diri yang spesifik.

Selama ini mengembangkan alat ukur kurang diperhatikan, beberapa ahli alat ukur yakin harus digunakan metode untuk mengukur rasa percaya diri, termasukl observasi tingkah laku

Penampilan fisik yang disadari merupakan kontributor yang penting bagi rasa percaya diri yang menyeluruh pada individu

rendahnya percaya diri dari tidak nyamannya emosional yang sifatnya sementara, rendahnya percaya diri dapat menyebabkan masalah-masalah lain seperti depresi, bunuh diri dan lain-lain

Empat cara untuk meningkatkan rasa percaya diri melalui idntifikasikan rendahnya dari 1)percaya diri dan domain kompetensi manakah yang penting bagi diri.2).dukungan emosional dan persetujuan sosial,3 )prestasi da 4 )coping

Sintesis :
Konsep diri ialah gambaran mental mengenai keadaan dirinya sendiri yang memiliki unsur-unsur yaitu (1) Bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya, yaitu (diri ideal) merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk menuju masa depan dan memandu kegiatan dalam pengalaman hidupnya (2) bagaimana seseorang menilai dirinya, setiap individu selalu menilai dirinya sendiri baik berpengaruh dengan pengharapan maupun cita-cita, hasil penilaian diri akan menimbulkan penghargaan terhadap dirinya sendiri (3) bagaimana individu menyempurnakan dirinya, yakin apa yang diketahui individu tentang dirinya misalnya: usia, jenis kelamin, pekerjaan pendidikan, kegemaran cita-cita dan sebagainya.

5. Hakikat Komitmen Tugas
a. Pengertian Tugas dan Komitmen
Menurut Dortie ( 1998 : 222) komitmen sulit dijelaskan tetapi setiap hari manusia melakukan komitmen dan setiap orang melakukan pengukuran komitmen pengaruhnya terhadap orang lain, sehingga komitmen merupakan persepsi analogi.
Secara umum tugas adalah “a certain work must be conducted a s obligation” (John T. McDunn, 1999:271) yaitu suatu pekerjaan tertentu yang harus dilakukan sebagai kewajiban, sehingga tugas merupakan bagian dari tanggung jawab pekerjaan yang bersifat khususdan harus diselesaikan. Menurut Martins, mengatakan bahwa “the teach task is school organization directive as subject to finished to be done by teachers in the instructional”. (Lyman W. Martins, 1996:305).
Dan dalam pandangan Cooper ( 1999 : 270 ) bahwa komitmen merupakan keterikatan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu sesuai dengan perjanjian.
Secara umum tugas adalah “a certain work must be conducted as obligation” ( John T. McDunn, 1999: 271) yaitu suatu pekerjaan tertentu yang harus dilakukan sebagai kewajiban, sehingga tugas merupakan bagian dari tanggung jawab pekerjaan yang bersifat khusus dan harus diselesaikan. Menurut Martins, mengatakan bahwa “the teach task is school organization directive as subject to finished to be done by teachers in the instructional”, (Lyman W. Martins. 1996:. 305), yang maknanya istilah tugas memimpin adalah patokan pimpinan organisasi sekolah sebagai masalah yang harus dikerjakan untuk diselesaikan para guru dalam pembelajaran.
Hal tersebut diatas didukung oleh pendapat Nash, bahwa “one of need of the new orientation to teach, the headmaster is to teach in position of responsibility, a position where he can take decision making and significant actiori” ( Piere D. Nash, 1991: p.132). Salah satu kebutuhan memimpin yang berorientasi dengan cara baru dari kepala sekolah adalah dalam posisi memimpin dan bertanggung jawab, hal tersebut merupakan pengambilan keputusan dan tindakan yang berarti, dalam hal ini untuk kepentingan dan kegiatan organisasi sekolah.
Selanjutnya menurut Massie yang diadaptasi ke dalam pendidikan “responsibility for the execution of lead must be accomanied by the authority to get the leadership done”, (Joseph L. Massie dan John M. Douglas, 1997: p. 135) tanggung jawab suatu pelaksanaan pekerjaan memimpin harus dibarengi dengan otoritas dalam melaksanakan kepemimpinan. Hal tersebut dikarenakan tanggung jawab tanpa otoritas akan mengaburkan tugas memimpin itu sendiri dan tugas memimpin kepala sekolah menjadi tidak berarti lagi.
Dengan demikian inti dari tugas memimpin organisasi adalah suatu kegiatan khusus yang dilakukan oleh pemimpin yang bertanggung jawab terhadap organisasi, termasuk organisasi sekolah dan kepala sekolah, dimana tanggung jawab tersebut merupakan otoritas kewajiban moral, karena sesuatu yang dikerjakan dalam memimpin organisasi memberikan nilai, arti, dan makna bagi organisasi dan bawahannya.
Selanjutnya, adaptasi tanggung jawab dalam manajemen ke dalam pendidikan yang terkait dengan tugas kepala sekolah yang juga berkenaan dengan fungsi kepala sekaolah dalam memimpin organisasi sekolahnya adalah tentang efisiensi operasional memimpin (the responsibility for efficient leader operation of leadership fungction). (Harold Koontz dan Cyril O’Donnell, 1998: p. 304). Jadi bagi kepala sekolah, tugas memimpin organisasi sekolah merupakan tanggung jawab untuk efisiensi operasional dalam melakukan kepemimpinan pada bidang pendidikan tertentu, misalnya kepala sekolah di SMP wilayah Jakarta Timur. Dengan demikian dapat dibedakan antara tugas memimpin dengan kepemimpinan yang masih bersifat umum. Tugas memimpin organisasi sekolah merupakan kegiatan kerja khusus dalam bidang pendidikan, yaitu yang terkait dengan transfer of learning yang dilakukan oleh guru bawahnnya dan dipertanggung jawabkan kepada kepala sekolahnya.
Oleh karena itu Elgierand berpendapat bahwa, “responsibility represent the part of commitment to someone” (Benn G. Elgierand, 1998: hal. 275), atau tanggung jawab merupakan bagian dari komitmen bagi seseorang. Berbicara tentang komitmen, menurut Bell pemikiran komitmen setelah diadaptasikan kedalam organisasi sekolah khususnya tugas kepala sekolah adalah hubungan antara individual kepala sekolah dan organisasi sekolah secara keseluruhan, jadi komitmen kepala sekolah bertanggung jawab kepada organisasi sekolah yang dipimpinnya (Brigth L. Bell, 1996: p. 279). Sejalan dengan pemikiran Bell, Dortie berpendapat bahwa “Commitment is difficult to explained, but every day human being to do commitment action and everyone to measurement their commitment link to others, so that commitment represent form perception of analogy” (Dons B. Dortie, 1998: 222), yang artinya bahwa komitmen sulit dijelaskan dan setiap hari manusia melakukan komitmen dan setiap orang melakukan pengukuran komitmen hubungannya terhadap orang lain sehingga komitmen merupakan persepsi analogi. Hal tersebut sejalan dengan pemahaman Merril bahwa komitmen selalu terkait dengan orang lain dan kepentingannya (Leslie D. Merrill, 1998: p. 169-171)
Pada prinsipnya komitmen sering salah dipersepsikan, tetapi dalam kenyataannya manusia hidup tidak dapat dilepaskan dengan komitmen. Pengertian komitmen menurut Schatz bahwa, “the trust from human being heart of the matter, the form of subtlely from antimacy related is commitment”, (Kenneth Schatz dan Linda Schatz, 1998: p. 125) yang secara bebas artinya kepercayaan adalah perihal yang berhubungan dengan hati, sesuatu bentuk yang sulit dipisahkan dari hubungan keakraban tersebut adalah komitmen.
Selanjutnya pendapat Cooper dan Shawaf, komitmen merupakan keterikatan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu sesuai dengan perjanjian (Robert K. Cooper dan Ayman Shawaf, 1999: p. 270). Sedangkan menurut Samuelson, komitmen dapat juga diartikan sebagai, “pledging, promise along with obligation etc. That restricts action from someone”, (Richard G. Samuelson, 2001: p. 211) yang maknanya bahwa komitmen, perjanjian, janji lain disertai dengan kewajiban dan lain-lain dalam pembatasan tindakan dari seseorang, termasuk guru. Dengan demikian pengertian komitmen lebih cenderung ke arah perasaan, emosi dan etika hati dari guru dalam memimpin organisasi sekolahnya.
Kembali menurut Cooper dan Shawaf, komitmen berkenaan dengan pokok inti emosi dari seseorang, sehingga menjadi daya dari tujuan hidup, dan keberhasilan harus mau menggali diri sendiri dan jika perlu mencari dukungan pada orang lain, sedangkan untuk memperoleh hasil yang optimal harus tulus dan konsisten. Sedangkan pendapat Gordon, bahwa komitmen adalah melakukan hal yang menurut anda harus dibuat, lama setelah keadaan emosional yang anda rasakan ketika anda mengatakan akan melakukannya.
Kemudian Julianita mengartikan komitmen sebagai: 1) janji kepada diri sendiri maupun kepada orang lain untuk tetap setia melakukan sesuatu yang telah diputuskan; 2) berbicara dan bertindak serta bertingkah laku sedemikian rupa sehingga mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan janji yang diikrarkannya. Sedangkan menurut Ghemawat, “Commitment as assidinity mainstream” yang artinya komitmen sebagai tendensi ketekunan. Janji dalam komitmen tersebut merupakan kompromi diri terhadap pihak lain yang harus ditepati bila ingin selalu dipercaya, dengan demikian pemahaman tentang komitmen berkenaan dengan tingkat kepercayaan orang lain terhadap dirinya.
Dari pemikiran-pemikiran tersebut diatas maka komitmen sebagai inti pokok emosi yang mengandung konsistensi dan ketekunan dari diri seseorang guru, atau komitmen merupakan bentuk potensi dan inti pokok emosi yang perlu digali serta dikembangkan kearah positif dalam mencapai tujuan hidup yang optimal dan harus dilaksanakan secara konsisten penuh dengan ketekunan.
Implementasinya karena komitmen merupakan kedalaman emosi seorang guru, maka komitmen menjadi salah satu potensi personal atau individu seorang guru dalam berhubungan dengan pihak lain, misalnya dengan guru lain dan stafnya. Hal ini berarti dalam diri seorang guru terdapat komitmen pribadi dalam memimpin. Menurut Koontz dan Weihrich, “komitmen pribadi adalah suatu keuntungan yang besar bagi manjemen berdasarkan hasil sasaran (Management By Objective) dan hal itu mendorong orang-orang bawahannya untuk mengikat diri mereka kepada tujuannya (dalam hal ini tujuan penidikan)”. Komitmen tersebut sebagai gambaran bagaimana seseorang mengikat diri dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan termasuk guru dalam pembelajarannya.

b. Membangun Komitmen
Selanjutnya mengenai komitmen tugas, Curchill berpendapat bahwa:
“1) Komitmen tugas sebagai trust, jika guru memiliki komitmen tugas maka akan tumbuh saling kepercayaan dan saling pengertian antara kepala sekolah dan guru serta staf bawahnnya; 2) komitmen tugas memimpin dapat membantu peredaman konflik dalam upaya penyelesaian yang dilandasi kesepakatan dan kerja sama; 3) komitmen tugas memimpin sebagai pedoman kebijaksanaan; 4) komitmen tugas memimpin sebagai pelindung nuansa sehat bawahannya; 5) komitmen tugas memimpin untuk mencegah kesinisan karena komitmen tugas memimpin merupakan janji yang selalu diingat oleh kepala sekolah; 6) komitmen tugas memimpin dapat membangun komunikasi sehingga dapat membuka peluang semua pihak dan bawahannya untuk melakukan komunikasi atau hubungan yang lebih baik” (John F. Curchill, 1998: p. 152-157).

Hal tersebut didukung oleh pendapat Harsey yang mengatakan bahwa, “fundamentalally, the commitments are built through dedication and service, when the excellent manager demonstrates genuine dedication and service to subordinates, they demonstrates a dedication to task excellence forms the basic for a strong benefit”. (Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard, 1998: p. 428). Pada intinya dasar komitmen tugas dibangun melalui dedikasi dan pelayanan. Pengelola yang baik akan mempertunjukkan dedikasi dan pelayanan pada konsumen, demikian pula staf bawahannya juga mempertunjukkan dedikasi dan komitmen tugasnya. Tugas pengabdian tersebut akan membentuk manfaat kuat bagi organisasi. Dengan kata lain dedikasi ini tidak hanya meningkatkan keberhasilan lembaga pendidikan, tetapi juga merupakan faktor pendorong kepuasan kerja guru.
c. Komitmen Pribadi Guru
“Concept of commitmen represent most center operation of psychology formulation in course of decision making” (Leon C. Mann, 1997: p. 294), bahwa konsep komitmen merupakan sebagian besar pusat pengendalian psikologi formulasi dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam suatu organisasi atau lembaga seperti sekolah, antara kepala sekolah, guru, dan staf sebagai individu bila diintegrasikan menjadi tim organisasi yang efektif, “bila dapat memperlihatkan pengabdian dan kesetiaannya, maka mereka melakukan kegiatan organisasi sekolahnya dalam membantu keberhasilan timnya dan hal ini sering disebut dengan kesatuan komitmen (unifed commitment)”. Jadi kesatuan komitmen pada dasarnya merupakan kesatuan seluruh anggota organisasi bersangkutan.
Sehubungan dengan karakteristik komitmen tersebut, maka berikut ini adalah tiga karakteristik individu yang memiliki komitmen seperti ditemukan Salancik dan dikutip oleh Nurkolis, “1) perilaku seseorang yang memiliki komitmen sangat tampak. Perbuatan-perbuatan seseorang dapat diamati (atau ditampakkan) menunjukkan komitmen lebih besar daripada perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara rahasia, 2) berkemauan menerima tanggung jawab personal atas perbuatannya, 3) membuat keputusan yang sulit dibatalkan (karena sudah dipikirkan masak-masak)”.
d. Implementasi Komitmen Tugas Guru
Menurut Leslie dalam implementasi strategi komitmen tugas guru perlu menguji sikapnya untuk memerankan serta memainkan komitmennya memimpin kelas dalam kegiatan pembelajaran. Guru melakukan komitmen sesuai dengan tugasnya, hal ini juga sependapat dengan pemikiran Kepner dan Tragoe bahwa, “let subordinate to know what their leader to honor”. (Rue D. Leslie, 1999: p. 149) Dengan demikian sikap yang baik adalah memberikan bahwa agar mengetahui sendiri, apa komitmen penghormatan pimpinan terhadapnya.
Sintesis:
Dari seluruh uraian dan analisis variabel komitmen tugas guru, maka dapat disimpulkan sebagai sintesis bahwa komitmen tugas guru adalah janji pribadi guru dalam melakukan tanggung jawab bembelajaran di kelas yang harus diselesaikan melalui langkah-langkah tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

5. Motivasi Kerja Guru
a. Pengertian motivasi
Para ahli psikologi berpendapat bahwa dalam diri seseorang ada sesuatu yang menentukan perilaku belajar. Ada yang mengemukakan sesuatu itu dengan istilah kebutuhan dan apabila yang menyebutkan dengan istilah motif (motive), istilah yang sering digunakan adalah motivasi (motivation). Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai sesuatu tujuan tertentu. Jadi motif itu merupakan suatu kondisi internal (kesiapsiagaan ).
Sedang motivasi berasal dari kata motive yang berarti dorongan. Dorongan tersebut menyebabkan tingkah laku atau perbuatan. Motivasi merupakan penyebab tingkah laku manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi, motivasi merupakan proses yang menimbulkan aksi, mendorong aktivitas dan mengatur pola kegiatan. Motivasi juga merupakan rangsangan, dorongan dan pembangkit tenaga atau daya. Proses berlangsung di dalam diri tidak dapat dilihat langsung namun dapat disimpulkan dari tingkah laku nyata.
McClelland (1990, hal.7-9) menyimpulkan bahwa : motivasi terbentuk karena adanya kebutuhan atau need yang tidak terpenuhi sehingga mengakibatkan individu mengalami ketidakseimbangan. Untuk mengurang ketidakseimbangan tersebut, ia melakukan usaha tertentu untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga keseimbang-an tersebut tercapai kembali.
Motivasi kerja adalah besar kecilnya usaha yang diberikan seseorang untuk melaksanakan tugas tugas pekerjaannya,jika motivasi kerja rendah, sulit diharapkan produktivitas yang tinggi (Ravianto J, 1985. hal 19).
Motivasi kerja adalah Pekerjaan yang dibagi-bagi kedalam berbagai komponen diukur dengan menggunakan teknik-teknik penelitian pekerjaan dan diberikan imbalan sesuai dengan produktivitas. Motivasi adalah tingkat kebutuhan manusia, pada saat orang sudah mencapai tingkat kebutuhan tertentu, mereka ingin bergeser ke tingkat kebutuhan selanjutnya. (ada lima tingkat kebutuhan) (Maslow, A.H. 1943, hal 50) Teori motivasi dua faktor Gaji tidak dapat dianggap sebagai motivator.
Manajer teori X memandang para pekerja sebagai pemalas dan tidak bisa diperbaiki, dan Manajer teori Y memandang bekerja harus seimbang dengan istirahat dan bermain, dan orang-orang cenderung untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang lebih baik (Herzberg,F. 1966. Hal. 23)
Vroom, mengembangkan apa yang ia gambarkan sebagai kemampuan bersenyawa (valence, alat perantara (instrumentality) dan harapan (expectancy). Hasibuan (1999), mendefinisikan motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kemahiran kerja seseorang agar dia mau bekerja sama,bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan.
Menurut Adair, mendefinisikan motivasi adalah kemampuan seorang pemimpin untuk menggerakan anggota kelompoknya kearah yang diinginkan. Dunca dalam Wahjosumidjo (1994), mendefinisikan motivasi sebagai suatu usaha sadar untuk mempengaruhi perilaku seseorang agar supaya mengarah tercapainya tujuan organisasi .
Gomes (1999), merumuskan motivasi sebagai perilaku yang ditujukan pada sasran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengajar suatu tujuan.
Morgan menambahkan bahwa motivasi berpengaruh dengan doronga dan kekuatan yang mempengaruhi tingkah laku ke arah pencapaian tujuan tertentu. Siagian (1997), mengemukakan bahwa motivasi dalam kaitannya dengan penggerakan (motivating) dapat didefinisikan menjadi keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi secara efisien dan ekonomis.
Nirman menyebutkan bahwa pada dasarnya ada 3 karakteristik pokok dari motivasi yaitu usaha, kemauan yang kuat dan arah/tujuan. Gibson (1997), mengartikan motivasi sebagai konsep yang digunakan untuk menggambarkan keadaan dalam diri seseorang yang mengaktifkan dan menggerakan serta mengarahkan perilaku.
Handoko (1994), bahwa motivasi sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Westerman mendefinisikan motivasi sebagai serangkaian proses yang memberikan semangat bagi perilaku seseorang dan mengarahkannya kepada pencapaian tujuan atau lebih singkat, yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang harus dikerjakan secara sukarela dan baik.
Menurut Manulang bahwa motivasi kerja tidak lain dari sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Sedangkan Prabu mengemukakan definisi motivasi kerja sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berpengaruh dengan lingkungan kerja.
Nawawi (dalam Burhan Karim, 2000), menjelaskan bahwa ada dua bentu motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah pendorong perilaku yang bersumber dari dalam diri sebagai individu motivasi ekstrinsik adalah pendorong kerja yang bersumber dari luar diri individu.
Teori Kepuasan (Content Theories) Teori ini pada dasarnya menekankan faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkan bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri seseorang yang menguatkan, mengarahkan, menggerakkan, mendukung dan menghentikan perilakunya.
Teori kepuasan yang paling cukup populer adalah teori Maslow. Maslow memandang motivasi manusia sebagai suatu hirarki delapan macam kebutuhan yang berkisar sekitar kebutuhan yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling tinggi.
Teori dua faktor (herzberg) dalam (Toha ,2000) Menurut herzberg dua faktor motivasi yang mempengaruhi seseorang dalam berperilaku, yaitu faktor motivator dan faktor hygienic (faktor pemeliharaan)
Teori motivasi McCelland dalam teori motivasinya bahwa produktivitas seseorang sangat ditentukan oleh tiga dorongan kebutuhan yaitu need of achievement (kebutuhan untuk berprestasi) neeed of affiliation (kebutuhan untuk beraffiliasi) dan need of power (kebutuhan untuk menguasai sesuatu), (Mangkunegara, 2000)
Teori motivasi proses (process theory), teori ini terletak pada pendapat yang mengatakan bahwa kuatnya kecenderungan seseorang bertindak dengan cara tertentu tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan daya tarik dari hasil itu bagi orang yang bersangkutan. Hal ini tercermin pada ungkapan Vroom yang dikutip Winardi (2001)
Menurut Wiles seperti yang dikutip Bafadal (1992), ada delapan macam kebutuhan yang mendorong motivasi kerja guru. Motif yang sudah aktif disebut Motivasi (Sadirman,1986 :73). Koontz (1996 :115) mendefinisikan motif sebagai suatu keadaan di dalam diri sesesorang yang mendorong, mengaktifkan atau menggerakan, dan mengarah-kan perilaku pada tujuan. Menurut Feldman (1989:258), motivasi adalah energi dalam diri seseorang yang ditandai oleh ”feeling”dan didahului oleh tanggapan terhadap tujuan.
Wahjosumidjo (1999:177) mengatakan bahwa motivasi sangat mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan sesuatu mempertahankan kegiatan kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Manusia itu berbeda satu sama lain tidak hanya dalam kemampuan melakukan sesuatu (abilitiy to do) tetapi juga berbeda dalam kemauan untuk melakukan sesuatu (wiil to do ), kemauan atau dorongan untuk melakukan sesuatu disebut motivasi. Menurut Cummings (1973:5) Penguatan itu berfungsi untuk mempertahankan perilaku yang diharapkan. Feldman, menunjukan imbalan bersifat intristik dan ekstristik, instristik lebih sering digunakan terhadap guru-guru yang mengajar murid-murid mempunyai prestasi yang lebih tinggi, dan ekstristik lebih sering digunakan untuk guru-guru yang mengajar murid-murid punya prestasi yang lebih rendah.
Menurut Maslow dalam Steers dan Porter (1975:37) apabila kebutuhan tingkat bawah secara relatif telah terpenuhi maka akan timbul keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi.
Udai Parck , menjelaskan bahwa tidak ada dalam organisasi manapun kebutuhan yang lebih tinggi muncul menunggu dipenuhi kebutuhan tingkat yang lebih rendah.
Faktor yang menyebabkan kuatnya motivasi. Faktor ini meliputi: 1) Gaji, 2) Kondisi kerja, 3) Keamanan, 4) Kebijaksanaan dan administrasi, 5) Perilaku supervisor, 6.Pengaruh antar pribadi. Steers dan Porter.
Faktor motivator berpengaruh langsung dengan isi pekejaan meliputi pencapaian prestasi (achievement), penghargaan atas prestasi (recognitionachievement), pekerjaan itu sendiri (the work it self), pertanggung jawaban (responsibility), kemajuan (advancement), dan pertumbuhan (Stears dan Porter,1975:6)
Menurut McClelland dalam Gellerman(1984:124) menyatakan bahwa motivasi berprestasi membuat sesesorang cenderung menuntut dirinya berusaha lebih keras.
Ganguli sebagai berikut ”Motivation does not change the individual capacity to work, it simply determined the level of his effort and raisesor lowers it as the case may be”. Thompson bahwa motivasi adalah besarnya keinginan seseorang untuk mencapai prestasi. Fouss dan Troppman mengemukakan definisi motivasi sebagai suatu respon secara langsung terhadap penurunan sesuatu.
McClelland dan kawan-kawan mengemukakan ada empat teori motivasi yang mereka sebut sebagai model motivasi, yaitu :
1. The Survival Model, bertolak dari teori evolusi, individu mempunyai dorongan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Motivasi tidak lain adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan.
2. The Stimulus Intensity Model, motivasi merupakan suatu rangsangan yang kuat, yang mendorong suatu tingkah laku.
3. The Stimulus Pattern Model, Motivasi muncul karena suatu keinginan untuk mencapai keseimbangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang diterima atau alami. Kesenjangan yang relatif sedang akan lebih memacu motivasi dibanding kesenjangan yang lebih besar atau terlalu kecil
4. The Affective Arovsal Model, bertolak dari situasi yang mengandung suasana afektif. Motivasi merupakan suatu pengalaman belajar yang terbentuk dalam suatu situasi yang mengandung isyarat. Pengalaman tersebut mendorong individu untuk berbuat.
Seperti diketahui, motivasi bertalian dengan belajar yaitu berbentuk sejumlah usaha, daya dan tenaga sebagai modal/bekal si pembelajar dalam berbagai kegiatan belajar, ( John P. De Cecco 1990: p. 132) sering dengan hal tersebut, dikemukakan pula Woolfolk bahwa motivasi biasanya didefinisikan sebagai salah satu yang mendorong dan mengarahkan perilaku, tentunya hal ini definisi yang umum, tetapi kita mencoba membuat yang lebih spesifik yaitu bahwa motivasi adalah energi untuk mendorong seseorang dalam mencapai tujuan yang dipilih. Studi psikologi memfokuskan kajiannya pada tiga hal dasar. Pertama, motivasi mendorong perilaku, kedua mendorong seseorang untuk mengarah pada suatu tujuan tertentu, ketiga mendorong seseorang terus-menerus mencoba tujuan itu (Anita E Woold Folk, 1992: p. 312).
Menurut Morgan bahwa motivasi adalah dorongan atau kekuatan yang dimiliki individu untuk mengarahkan tingkah laku pada tujuan tertentu (Morgan, 1990, p. 26). Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu. Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan suatu kebutuhan, dorongan untuk memenuhi kebutuhan, bertingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan pencapai tujuan yang memenuhi kebutuhan itu.
Kaitan tersebut di atas, tertampung dalam istilah “lingkungan motivasi” yang memiliki tiga rantai dasar yaitu :
1. Timbulnya suatu kebutuhan yang dihayati dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan itu.
2. Bertingkah laku tertentu sebagai usaha untuk mencapai tujuan yaitu terpenuhinya kebutuhan yang dihayati. Tujuan itu dapat dinilai sebagai suatu yang positif, yang ingin diperoleh, atau dapat dinilai sebagai suatu yang negatif yang ingin dihindari.
3. Tujuan tercapai sehingga orang merasa puas dan lega karena kebutuhan yang terpenuhi.
Beberapa ahli psikologi menyebutkan bahwa motivasi digunakan untuk menjelaskan arah, intensitas dan keajegan perilaku yang diarahkan oleh suatu tujuan. Disebut juga bahwa dalam motivasi tercakup konsep-konsep seperti kebutuhan untuk berperestasi, kebutuhan untuk berafiliasi, kebiasaan dan keingin tahuan seseorang terhadap sesuatu, dengan kata lain bahwa motivasi itu mengacu pada tujuan mengapa suatu aktivitas itu dilakukan oleh seseorang dan bersifat ajeg (David Krech, Richard S Crutch Field and Egerton L Ballachel, 1993: p. 68-69) dalam arti mengapa sesorang itu rela melakukan aktivitas tertentu pada hal diketahui bahwa aktivitas itu sulit, banyak rintangan serta memerlukan waktu yang lama.
Secara sederhana, motivasi diartikan sebagai keinginan untuk mencurahkan segala tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses ini dirangsang oleh kemauan untuk memenuhi kebutuhan individu artinya dengan didasari atas pemenuhan kebutuhannya maka seseorang akan terpacu untuk melakukan suatu usaha sehingga pada akhirnya terwujud dalam perilaku, sebagai mana tergambar dalam bagan di bawah ini :

1.Makanan 1.Lapar 1.Makan
2.Oksigen 2.Sesak nafas 2.Bernafas
3.Air 3.Haus 3.Minum
Gambar 1 Pengaruh antara kebutuhan, motif dan perilaku.

Motivasi juga menjadi dorongan seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Dalam hal ini secara ringkas Laurance Frederic Shafter menyatakan bahwa motivasi energi total atas daya dorong hidup yang merangsang seseorang untuk melakukan suatu aktivitas (Laurance Frederic Saffter and Edward Joseph Shoban, 1989: p.25-26).
Selain itu mengutip dari Frederick, Mc Donald, Wasty Sumarto mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan tenaga didalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan melalui kemampuannya dalam menentukan tindakan yang hendak dilakukan (Wasty Sumanto, 1998: p. 203)
Berangkat dari berbagai teori yang dikemukakan di atas maka terdapat tiga fungsi dari motivasi yaitu :
1) Mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang didasarkan pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini motivasi merupakan motor penggerak dari setiap kebutuhan yang akan dipenuhi.
2) Menentukan arah tujuan yang hendak dicapai.
3) Menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dilakukan guna mencapai tujuan yang diharapkan.
Lebih lanjut McClelland (p, 139) mengemukakan bahwa motivasi merupakan keinginan kuat dari seseorang pada akhirnya terwujud dalam tindakan yang dilakukannya. Menurutnya ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya motivasi yaitu :
1. Perintah yang diberikan kepada seseorang
2. Tugas yang diberikan kepada seseorang dan diminta untuk menampilkannya
3. Kesuksessan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas yang dibebankan padanya.
Motivasi berkaitan erat juga dengan keadaan internal seseorang. Kenyataan menunjukan bahwa keadaan internal siswa dapat bersifat positif yang dilakukannya adalah perbuatan negatif yang dapat merugikan orang lain maupun dirinya sendiri, begitupun sebaliknya. Motivasi sebagai pemasok daya dapat bersifat positif maupun negatif, sedangkan motivasi belajar harus diartikan pada hal-hal yang positif, sehingga mempunyai arti dan makna bagaimana siswa tersebut belajar.
Secara garis besar, motivasi mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sebagai individu, manusia memiliki motif atau kebutuhan berdasarkan motif.
2. Muncul tidaknya motif tersebut tergantung pada situasi lingkungan sebagaimana dialami individu tersebut.
3. Keadaan lingkungan akan menentukan berbagai motif .
4. Perubahan dalam penerimaan terhadap suatu lingkungan akan menghasilkan perubahan dalam pola munculnya motif-motif.
5. Setiap macam motif diarahkan untuk memuaskan berbagai macam kebutuhan.
Motivasi muncul jika terdapat kesenjangan arah harapan dan kenyataan. Usaha manusia untuk menghilangkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan inilah yang disebut motivasi. pengalaman berharga yang dialami seseorang dapat mengakibatkan motivasi seseorang berkembang. Motivasi dalam diri seseorang berkembang melalui pengalaman belajar dan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam proses belajar.
Motivasi juga merupakan usaha keberhasilan dalam suatu kompetisi dengan suatu keunggulan. Misalnya dengan menjuarai suatu kompetisi atau memperoleh nilai raport yang terbaik.
Lingkungan eksternal sangat menentukan dalam pembentukan motivasi dan juga dapat memperkuat motivasi. Dengan kata lain motivasi dapat timbul dan bertambah kuat dengan pengaruh dari luar individu, kalau dihubungkan dengan keadaan internal diri individu, dihubungkan dengan keadaan internal individu, tingkah lain seseorang ini timbul karena adanya kebutuhan dari diri sendiri. Manusia senantiasa menyadari apa yang diinginkan, kesadaran pula manusia selalu berusaha mengerahkan upaya terhadap apa yang ingin dia capai dan dapat melihat manfaat dari apa yang dilakukannya tersebut. Karena itu manusia selalu berusaha untuk hal-hal yang kelihatannya bermanfaat bagi dirinya. Jadi motivasi mempunyai kaitan erat dengan kebutuhan dan keinginan untuk melakukan perbuatan. Kebutuhan tersebut mendorong individu untuk melakukan perbuatan untuk mencapai apa yang diinginkannya. Jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi, kepuasan akan timbul, keadaan ini mendorong individu untuk memenuhi kebutuhan berikutnya atau dengan kata lain kepuasan yang diperoleh saat ini akan mendorong timbulnya kebutuhan berikutnya dan selanjutnya akan membuahkan kepuasan pula.
Sejalan uraian di atas, Muhibbin Syah mengemukakan bahwa motivasi ialah keadaan internal organisme yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Motivasi berarti pemasok daya/energizer untuk bertingkah laku secara terarah (Muhibbin Syah, p. 136-137)

b. Motivasi Kerja Guru
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yang dapat mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangkan materi dan kebutuhan terhadap materi tersebut misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan, sedangkan motivasi yang ektrinsik adalah yang datang dari luar individu yang juga mendorongnya melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah merupakan contoh-contoh kongkrit motivasi ektrinsik yang mendorong siswa untuk belajar.
Apakah sebenarnya motivasi intrinsik ? motivasi intrinsik artinya muncul dari dalam, jadi motivasi intrinsik adalah stimulasi atau dorongan yang datangnya dari dalam diri seseorang (Paul Chance dan Brandt, What is Intrinsic Motivation, Diambil 02/06/03 dari http://www.seamunkey,ed,asu edu/-jimbo/RIBARY Folder/Problem) Dalam pengaruhnya dengan proses belajar, motivasi intrinsik terjadi jika seseorang mendorong untuk belajar karena ada dorongan untuk memahami sesuatu, yaitu rasa ingin tahu yang muncul dari diri mereka. Motivasi intrinsik biasanya berkaitan dengan Reward atau imbalan intrinsik, sebab imbalan yang bersifat alamiah atas dasar suatu tugas adalah dorongan yang kuat untuk menyemangatkan seseorang.
Motivasi ektrinsik adalah dorongan yang datang dari luar, perilaku yang ditunjukkan mengacu pada harapan dari luar, seperti materi dan pujian.
Menurut Brophy, bahwa motivasi adalah konstruk hipotesis yang digunakan untuk menerangkan arah awal dari intensitas dan kesungguhan yang berpengaruh suatu tujuan perilaku yang terarah. Yang termasuk motivasi adalah kebutuhan berprestasi, kebutuhan bersatu, dorongan kebiasaan, ketidaksesuaian, keingintahuan. Masing-masing kebutuhan merupakan cara yang berguna untuk melihat perilaku yang ditunjukan oleh motivasi yang dimiliki seseorang.
Para ahli perilaku melihat bahwa motivasi berlangsung secara bertahap. Para ahli perilaku juga memandang bahwa motivasi sebagai simbol perilaku dalam persyaratan situasi internal, sehingga para perilaku lebih menekankan pada penelitian internal. Motivasi bersumber dari dua hal yaitu perilaku dan tujuan lingkungan yang ditampilkan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu dorongan yang datang dari dalam diri anak itu sendiri (intrinsik) dan dorongan yang datang dari luar (ekstrinsik). Adanya dorongan oleh ada karenanya kebutuhan, antara lain kebutuhan berprestasi, kebutuhan bersatu, kebiasaan, keingintahuan dan lain-lainnya yang diwujudkan dalam bentuk perilaku.
Tabrani menyatakan pemberiaan motivasi yang baik bahwa :
1. Belajar adalah memodifikasi atau memperoleh tingkah laku individu melalui pengalaman.
2. Belajar dalam arti yang luas, ialah proses perubahan tingkah laku individu interaksi melalui lingkungan.
3. Belajar dalam arti yang luas , ialah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi yang lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi.
4. Belajar itu selalu menunjukkan proses perubahan tingkah laku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu (Tabrani Rusyan, 1998: h. 7-11) Tujuan belajar itu pada prinsipnya sama yakni perubahan tingkah laku, yang berbeda hanya cara penyampaiannya. Pengertian ini menitik beratkan interaksi antara individu dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar. Sejalan dengan hal tersebut Wlodkowski mengemukakan pula urutan motivasi belajar seutuhnya sebagai berikut :

Maksudnya bahwa seseorang siswa yang memiliki kemampuan untuk bertindak (ENERGI) membuat suatu pilihan (KEMAUAN) termasuk sesuatu tertentu (ARAHAN) yang dilanjutkan (KETERLIBATAN) mengarah pada menyelesaikan tugas pelajaran (MELENGKAPI). (Raymond J. W Lodkuwski, 1994: p. 12-16) Jadi, secara sederhananya, motivasi belajar berkaitan dengan mengapa perilaku manusia terjadi?
Para psikolog dan para pendidik menggunakan kata motivasi untuk menggambarkan proses yang dapat :
1. Membangkitkan dan mendorong seseorang berperilaku.
2. Memberi arahan dan tujuan agar seseorang berperilaku.
3. Mendorong agar perilaku itu dilakukan secara terus menerus dan lain-lain.
4. Memberikan masukan dalam memilih perilaku tertentu.
Di sini proses adalah perubahan sikap, nilai atau kebiasaan, pengetahuan dan keterampilan sikap, nilai individu itu sendiri sehingga terjadi perubahan. Tingkatan perubahan tersebut dapat digunakan dalam kehidupan individu. Penggunaan berbagai sikap, nilai, pengetahuan dan kecakapan itu adakalanya mudah berlangsung dengan sendirinya, tetapi adakalanya sukar dan bahkan tidak dapat digunakan.
Motif diartikan sebagai daya penggerak yang mendorong seseorang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Motif yang sudah aktif disebut motivasi (Sardiman A.M, 1996: h. 73). Motivasi merupakan proses yang tidak dapat diamati, biasa ditafsirkan melalui tindakan proses yang tidak dapat diamati, biasa ditafsirkan melalui tindakan individu yang bertingkah laku, sehingga motivasi tindakan individu merupakan proses yang tidak dapat diamati, biasa ditafsirkan melalui tindakan individu yang bertingkah laku, sehingga motivasi merupakan konstruk jiwa, kedudukan motivasi sejajar dengan isi jiwa sebagai cipta (kognisi), karsa (konasi) dan rasa (emosi) yang merupakan tridaya. Apabila cipta, karsa dan rasa yang melakat pada diri seseorang dikombinasikan dengan motivasi, dapat menjadi satu daya atau empat dorongan kekuatan yang dapat mengarahkan individu mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan (Robert M.W. Travers, Op.Cit, pp. 423-433).
Nawawi mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong atau menjadi penyebab seseorang melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, yang dilakukan dengan sadar, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam keadaan terpaksa seseorang mungkin saja melakukan yang tidak disukainya, sehingga kegiatan yang didorong oleh sesuatu yang tidak disukai merupakan kegiatan yang terpaksa dilakukan cenderung berlangsung tidak efektif dan tidak efesien (Hadari Nawawi, 1997, h. 351)
Dengan demikian motivasi dapat dinilai sebagai suatu daya dorongan (driving force) yang menyebabkan orang berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa motivasi menunjukan pada gejala yang melibatkan dorongan perbuatan terhadap tujuan tertentu.
Para pakar sosial berpendapat bahwa ada dua komponen utama untuk menganalisis motivasi sebagai dasar tingkah laku individu, yaitu : (1) komponen internal, merupakan dorongan yang berdasarkan kebutuhan atau motif dan (2) komponen tujuan yang ingin dicapai dengan tercapainya tujuan berarti telah terpenuhinya kebutuhan individu, komponen tujuan sifatnya eksternal yang berada di luar individu. Sepengaruh dengan itu Maslow mengemukakan bahwa studi motovasi sebagian merupakan studi tentang tujuan, keinginan dan kebutuhan manusia (Abraham H. Maslow, 1990, h.22).
Dalam suatu motif umumnya terdapat dua unsur pokok, yaitu : (1) unsur dorongan atau kebutuhan atau disebut juga “proses tenaga” yang sifatnya internal. (2) unsur tujuan, yang mengandung unsur pembelajaran atau pembiasaan sebagai pengaruh faktor eksternal. Proses interaksi timbal balik antara kedua unsur terjadi dalam diri individu, namun dapat dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri manusia. Misalnya kondisi cuaca, kondisi lingkungan dan sebagainya. Oleh karena itu dapat saja terjadi perubahan motivasi pada diri seseorang dalam waktu singkat, jika ternyata motivasi yang pertama mendapat hambatan atau tidak terpenuhi.
Teori motivasi yang berpengaruh dengan pertumbuhan atau pemenuhan berbagai kebutuhan yang dikembangkan oleh Maslow. Berdasarkan kebutuhan yang terkenal operasionalnya dipaparkan motif-motif individu dalam berbagai tingkatan. Bila kebutuhan individu pada tingkatan yang lebih rendah terpenuhi, maka kebutuhan lain yang paling tinggi segera timbul. Kebutuhan individu dimulai dari kebutuhan biologis yang dibawa sejak lahir sampai dengan kebutuhan psikologis yang kompleks.
Suatu motif akan menguasai tingkah laku seseorang bila motif yang berada di bawahnya sudah terpenuhi. Tingkah laku manusia mula-mula dikuasai oleh motif yang paling rendah, yaitu motif psikologis seperti lapar, haus, seks, dan sebagainya. Setelah motif dasar terpenuhi, motif di atasnya mulai menguasai sampai dengan motif yang paling tinggi yaitu motif aktualisasi diri, kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak dapat berfungsi lagi sebagai motivator misalnya udara sebagai buat bernafas. Menurut teori pemenuhan ken, orang mempunyai kebutuhan dan keinginan didalam dirinya yang menyebabkan seseorang tidak berbuat atau bertindak. Menurut Maslow dalam FelSMP, hirarki kebutuhan yang dipenuhi individu menunjukkan peningkatan sebagai mana diperlihatkan pada gambar I berikut ini :

Need for Tracendence
Self Actualization Needs
Aesthetic Needs
Cognitive Needs
Esteem and Self Estem
Safety and Security
Pshysicological Needs ; air, food, water, sez, etc.

Gambar 2
Bagan teori pemenuhan kebutuhan
(Abraham H Maslow, Motivation And Personality,New York ; Herper and Row Publisher, hal 58)

Motivasi untuk memenuhi kebutuhan yang rendah merupakan motivasi yang paling rendah. Sedangkan motivasi untuk memenuhi kebutuhan yang paling tinggi merupakan motivasi yang paling tinggi. Rendah atau tingginya motivasi tidak lepas dari keadaan ekonomi seseorang. Individu yang melepaskan diri dari kemelaratan harus memenuhi kebutuhan dasar, tindakannya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis/fisik lebih menonjol dari pada kebutuhan lainnya. Berbagai aktivitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan fisik. Disamping itu kebutuhan sosial mulai dirasakan juga sebagai sesuatu yang mendesak untuk dipenuhi. Sedang bagi individu yang telah memenuhi kebutuhan fisik dan rasa aman sebagian besar aktivitasnya akan digunakan untuk memenuhi rasa dihargai, selain faktor ekonomi keinginan untuk memenuhi kebutuhan dipengaruhi pula faktor sosial kultural yaitu kebutuhan yang dirasakan lebih penting akan didahulukan.
Selanjutnya dikemukakan bahwa motivasi ini mengandung tiga elemen penting yaitu : (a) motivasi mengawali perubahan energi pada diri setiap individu; karena menyangkut perubahan energi manusia, penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik; (b) motivasi ditandai oleh adanya rasa/feeling atau afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi ada pengaruh dengan tingkah laku manusia; (c) motivasi akan terangsang karena adanya tujuan, motivasi merupakan respon dari tujuan, tujuan ini menyangkut kebutuhan.
Sejalan dengan itu Nawawi mengatakan bahwa fungsi motivasi bagi manusia adalah (a) motivasi sebagai motor penggerak bagi manusia, ibarat bahan bakar pada kendaraan; (b) motivasi merupakan mengatur dalam pemilihan alternatif diantara dua atau lebih kegiatan yang bertentangan dengan memperkuat suatu motivasi akan memperlemah motivasi yang lain, oleh karena itu seseorang akan melakukan satu aktivitas dan meningkatkan aktivitas yang lain; (c) motivasi merupakan pengaruh arah dan tujuan dalam melakukan aktivitas. Dengan kata lain, setiap orang hanya akan memilih dan berusaha untuk mencapai tujuan pada sistem yang memberikan motivasi tinggi dan bukan mewujudkan tujuan pada sistem yang lemah motivasinya.
Seeorang melakukan aktivitas karena adanya suatu dorongan mengenai dorongan ini ada dua teori yang muncul : “biogenik theories” dan “sosiogenik theoties”. Biogenic theories menyangkut proses biologis seperti instink dan kebutuhan-ken; sedangkan Sosiogenic theories menekankan adanya pengaruh kebudayaan/ kehidupan masyarakat, kedua teori ini menunjukan bahwa seseorang melakukan aktivitas karena kebutuhan biologis, instink unsur-unsur kejiwaan lainnya yang dipengaruhi perkembangan budaya manusia.
Analisis motivasi oleh para ahli-ahli psikologi menggantungkan pada konsep kebutuhan (Need) dan dorongan (drive) Krech, Cruthfield dan Ballanchey juga mengemukakan bahwa kebutuhan merupakan kekuatan pendorong bagi manusia untuk bertindak.
Kebutuhan merupakan faktor pendorong adanya perbuatan, Maslow yang dikenal sebagai bapak Sosiologis Humanistic dan Bapak Aktualisasi Diri, mengemukakan bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama, tidak berubah dan berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan ini juga bersifat psikologis, bukan semata-mata fisiologis (Frank G. Goble, 1997, h. 70).
Para ahli psikologi berpendapat bahwa dalam diri seseorang ada sesuatu yang menentukan perilaku, yang bekerja dengan cara tertentu secara konsep dengan makna yang sama. Perbedaan kedua konsep tersebut menurut Atkinson adalah motif merupakan suatu disposisi laten yang berusaha dengan kuat untuk menuju kepada tujuan tertentu. Tujuan ini dapat berupa prestasi afiliasi atau kekuasaan. Sedangkan motivasi adalah keadaan seseorang yang terangsang apabila terjadi sesuatu motif yang telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai, misalnya bila suatu perbuatan akan mencapai suatu motif yang bersangkutan.
Motivasi juga dapat dianggap disposisi nilai seseorang yang jika telah terbentuk secara relatif dapat bertahan walaupun masih ada kemungkinan untuk dimodifikasi. Sedangkan proses motivasi merupakan interaksi antara motivasi dengan aspek-aspek situasi yang diamati secara relevan dengan motivasi yang bersangkutan. Dari penjelasan tersebut ternyata motivasi lebih luas cakupannya dan cenderung pada keseluruhan proses interaksi antara motivasi dengan situasi yang mendorong serta timbulnya prilaku kearah tujuan tertentu.

 
Comments Off

Posted in Referensi

 

Tags:

Comments are closed.

 
1 visitors online now
0 guests, 1 bots, 0 members
Max visitors today: 1 at 12:06 am UTC
This month: 1 at 08-01-2014 12:41 am UTC
This year: 14 at 05-01-2014 04:39 pm UTC
All time: 92 at 11-05-2013 10:26 am UTC
Terima Kasih atas kunjungan anda...Wassalam