Assalamu'alaikum, Wr, Wb Selamat Datang di dunia Pendidikan
RSS
 

TEORI HASIL BELAJAR

13 Jul

Oleh : Usman

Belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan manusia. Perubahan ini terjadi karena adanya interaksi antar sesama atau dengan lingkungan. Seseorang dikatakan telah belajar apabila dalam interaksi tersebut seseorang mengalami perubahan tingkah laku baik dari segi pengetahuan, sikap maupun keterampilannya.
Kata belajar lebih sering diartikan dalam pengertian yang sempit, yaitu belajar hanya dikaitkan dengan belajar formal disekolah, misalnya mempelajari IPA, matematika dan sebagainya, sehingga hasil yang berupa prestasi dalam bentuk angka-angka atau nilai ujian. Tapi pada dasarnya belajar berarti berusaha mengubah tingkah laku, jadi belajar akan membawa sesuatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Seperti dikatakan Sardiman ( 2004 : 21 ) bahwa “ perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian dari kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan pribadi seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dilihat dalam belajar praktek, perubahan tingkah laku seseorang dapat dilihat secara konkrit atau dapat diamati. Pengamatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan yang dilakukan terhadap suatu objek yang dikerjakannya. Seorang guru memberikan perintah kepada siswa untuk melakukan kegiatan praktek merupakan “ stimulus ”, dan siswa dengan menggunakan pemikirannya, melakukan kegiatan praktek merupakan “ respons ” yang hasilnya langsung dapat diamati. Hamzah B.Uno ( 2006 : 11 ).
Belajar merupakan proses perubahan yang menetap dalam setiap individu. Belajar adalah sikap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Dari pengertian belajar tersebut maka untuk dapat dianggap belajar, perubahan itu harus relatif menetap. Periode waktu itu dapat berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology : The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory mengatakan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme ( manusia atau hewan ) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
Wittig dalalm bukunya Psychology of Learning mengatakan belajar ialah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organism sebagai hasil pengalaman. ( Muhibbin Syah, 2008 : 90 )
Hal senada diungkapkan Lyle E. (1976 : 99) “ Learning as a relatively permanent change in behavior traceable to experience and practice ”, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan. Jelaslah, bahwa proses belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku, dan terjadi karena hasil pengalaman. Oleh karena itu, dapat dikatakan terjadi proses belajar, apabila seseorang menunjukan tingkah laku yang berbeda. Jadi belajar menempatkan seseorang dari status abilitas (kemampuan) yang satu ke abilitas yang lain.
Mengenai perubahan abilitas itu, menurut Bloom dalam Sardiman ( 2004 : 23 ), meliputi tiga ranah yaitu :
a) Kognitif Domain
i. Knowledge ( pengetahuan / ingatan )
ii. Comprehension ( pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh )
iii. Analysis ( menguraikan, menentukan hubungan )
iv. Synthesis ( mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru )
v. Evaluation ( menilai )
vi. Application ( menerapkan )
b) Affective Domain
i. Receiving ( sikap menerima )
ii. Responding ( memberikan respons )
iii. Valuing ( nilai )
iv. Organization ( organisasi )
v. Characterization ( karakteristik )
c) Pshychomotor Domain
i. Initiatory level
ii. Pre-routine level
iii. Roundtinized level
W.S.Winkel ( 1983 : 15 ) berpendapat bahwa :
“ Belajar adalah suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relative konstan dan berbekas “.

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannyadalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah lagu yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”( Slameto. 2003 : 2).

dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa pada dasarnya belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku dan biasanya dilakukan secara sadar oleh seseorang.
Dari teori-teori diatas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa belajar adalah upaya mencapai perubahan tingkah laku, yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Perubahan tingkah laku ini tidak hanya mengenai perubahan pengetahuan, tapi juga berbentuk kecakapan, kebiasaan, sikap.

b. Pengertian Hasil Belajar
Belajar merupakan kegiatan fisik dan mental, sehingga perubahan yang ada harus tergambar pada perkembangan fisik dan mental siswa, keberhasilan belajar siswa dapat diukur berdasarkan pada besarnya rentang perubahan sebelum dan sesudah siswa mengikuti kegiatan belajar. Dari proses belajar mengajar itu diharapkan terjadi perubahan-perubahan yang terjadi dan itulah yang dinamakan hasil belajar. Menurut Suharsimi Arikunto “ hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, dimana tingkah laku itu tampak dalam bentuk perubahan yang dapat diamati dan diukur ”.
Oemar Hamalik ( 2002 : 30 ) menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti rangkaian pembelajaran atau pelatihan, perubahan yang terjadi dapat diamati melalui beberapa aspek berikut :
1) Pengetahuan
2) Pengertian
3) Kebiasaan
4) Keterampilan
5) Apresiasi
6) Emosional
7) Hubungan sosial
8) Jasmani
9) Etis atau Budi pekerti
10) Sikap
hasil belajar dapat dikatakan sebagai perubahan yang terjadi dalam individu akibat dari usaha yang dilakukan atau interaksi individu dengan lingkungannya.
Hasil individu dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilakukan secara bertahap selama proses belajar mengajar itu berlangsung. Evaluasi dapat dilakukan pada awal pelajaran, selama pelajaran berlangsung atau pada akhir pelajaran.
Evaluasi yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai hasil belajar biasanya menggunakan suatu test. Menurut Ngalim Purwanto ( 1986 : 43 ) tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan guru kepada muridnya atau oleh dosen kepada mahasiswa dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, hasil penilaian dari evaluasi merupakan umpan balik untuk mengukur sampai dimana keberhasilan proses belajar mengajar. Dengan nilai-nilai yang diperoleh siswa akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Selain siswa, guru pun akan mengetahui sejauh mana keberhasilannya dalam mengajar, hal itu dapat digunakan untuk perbaikan dalam pengajaran berikutnya.
Gitisudarmo dan Sudita ( 2000 : 44 ) menyatakan bahwa “ hasil belajar merupakan kombinasi perkalian antara kemampuan, usaha, keterampilan dan kejelasan tugas tanggung jawab ( role perceptions ).
Hasil belajar siswa akan tergambar dari tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang di bebanka kepadanya. Pada bagian lain dijelaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah menerima pengalaman belajar. Sudjana ( 2002 : 22 ). Sedangkan Soedjirto ( 1993 : 43 ) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan pendidikan yang ditempuh.
Gagne dan Brigs ( 1988 : 49 ) membagi hasil belajar menjadi lima kapasitas diantaranya adalah :
1) Keterampilan intelektual ( intelektual skill )
2) Strategi kognitif ( cognitive strategies )
3) Infomasi verbal ( verbal information )
4) Keterampilan motorik ( motoric skill )
5) Sikap ( attitudes )
Ranah kognitif berkenaan dengan perubahan tingkah laku dan intelektualnya ( pengetahuan ), dimana diterimanya pengetahuan oleh yang belajar sehingga terjadi perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu. Ranah afektif berkenaan dengan perubahan tingkah laku dalam sikap atau perbuatannya. Ranah psikomotor berkenaan dengan kemampuan memanipulasi secara fisik, dimana diperolehnya keterampilan bagi individu yang belajar sehingga terjadi perubahan yang semula tidak bias menjadi bias.
Menurut Zulkifli lubis yang dikutip oleh eni dalam skripsinya memperkuat tentang masalah ini, dia mengatakan bahwa :”Evaluasi adalah suatu usaha yang tertib, teratur dan berlanjut yang ditujukan untuk memperkirakan hasil belajar siswa yang meliputi perkembangan kepribadian, intelek dan jasmani yang diukur terhadap terrcapainya pendidikan”.
Belajar merupakan proses yang unik dimana banyak factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Secara garis besar ada dua factor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu :
a. Factor intern yakni factor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang disebut factor individual. Menurut Slamento factor dibedakan menjadi tiga factor yaitu : factor jasmaniah, factor psikologis, dan factor kelelahan.
b. Faktor ekstern yakni factor yang ada diluar siswa atau factor social. Slameto menjabarkan lagi factor ini menjadi tiga factor yaitu factor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dari teori-teori diatas maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan siswa dalam bentuk kemampuan-kemampuan tertentu dari pengalaman-pengalaman belajar setelah mengikuti serangkaian pembelajaran dan merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri siswa dapat berupa penguasaan ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan tertentu. Diharapkan dengan menguasai ketiga hal diatas dapat diketahui sejauh mana siswa dapat menyerap apa yang sudah dipelajari.

c. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA )
Istilah IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Beberapa ahli di berbagai bidang merumuskan suatu definisi science yang operasional yakni :

• Fisher
Science adalah kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode yang berdasarkan observasi.
• Carin
Science adalah suatu kumpulan pengetauan yang tersusun secara sistematik, yang dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan science tidak hanya ditunjukan oleh kumpulan fakta saja, tetapi juga oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah.
• Nash Seorang ahli kimia, menekankan bahwa science adalah suatu proses atau suatu cara untuk meneropong dunia.
• Wigner seorang ahli fisika mendefinisikan science sebagai gudang / penyimpanan tentang gejala-gejala alam.
• T.H.Huxley, seorang ahli biologi
Science adalah pikiran sehat yang diorganisir. Secara tepat pernyataan yang mudah dimengerti ini melukiskan kewajaran dan kemasukakalan (rasionalitas) pengetahuan ilmiah sehingga dapat membantu melenyapkan beberapa ilmu sihir ( mistik ) yang sering melingkupi science.
• Bube, seorang ahli fisika
Science adalah pengetahuan tentang dunia ilmiah yang diperoleh dari interaksi indera dengan dunia tersebut. Pernyataan ini memberikan suatu ketelitian yang menarik terhadap dua aspek tentang bagaimana observasi terjadi ( berlangsung ).
• James Conant, seorang ahli kimia organic
Science adalah rangkaian konsep-konsep yang saling berhubungan dan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimentasi dan observasi dan merupakan hasil eksperimentasi dan observasi yang lebih lanjut.
• Benyamin, seorang ahli filsafat
Science adalah “ mode of inquiry “ yang berusaha untuk mencapai pengetahuan tentang dunia dengan menggunakan metode hipotesa yang telah ditetapkan terhadap apa yang diberikan di dalam observasi.
• Dampier, seorang ahli sejarah science
Science adalah pengetahuan tentang gejala-gejala alam yang teratur dan studi rasional tentang hubungan antara konsep-konsep yang mana gejala-gejala ini dinyatakan.
• A.N. Whitehed menyatakan bahwa Sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengalaman. Orde pertama didasarkan pada hasil observasi terhadap gejala / fakta dan orde kedua daidsarkan pada konsep manusia mengenai alam semesta.

• H.W. Fowler
IPA merupakan ilmu yang sistematis yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi.
IPA merupakan merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah dengan ciri objektif, metodik, sistematis, universal dan tentatif. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan segala isinya.
Menurut Fowler bahwa IPA merupakan ilmu yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan yang didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi ( H.W. Fowler et-al, 1951 )
Sedangkan menurut Pusat kurikulum Balitbang Depdiknas yang dikutip dari Carin dan Sund ( 1993 ) mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen ( Depdiknas, 2005 : 4 ).
Dari beberapa pengertian diatas bahwa IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain.

d. Hasil Belajar IPA
Kegiatan belajar dilakukan oleh setiap orang, kegiatan belajar adalah proses yang aktif sehingga harus ditandai dengan adanya sesuatu proses usaha dari individu yang bersangkutan. pengertian belajar banyak dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama. Menurut Slameto :
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengamatan individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan” ( Slameto, 2003 : 8 ).

Belajar sebagai suatu upaya untuk memperoleh kepandaian. Pengertian diatas lebih menekankan pada tujuan belajar. Belajar juga diartikan sebagai perubahan suatu tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Belajar dapat dilakukan dimana saja, dirumah, disekolah, maupun dimasyarakat bahkan dalam perjalanan sekalipun. Proses belajar disekolah erat kaitannya dengan siswa sebagai subjek yang melakukan kegiatan belajar. Dalam belajar disekolah siswa melakukan proses penyesuaian terhadap yang diajarkan. Siswa menggunakan kemampuan yang dimiliki agar dapat memahami materi yang diberikan. perubahan yang diharapkan terjadi yaitu siswa memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum dimiliki, timbul pengalaman individu yang baru., memiliki keterampilan serta perubahan dalam sikap dan tinglah laku.
Agar proses belajar dapat berjalan dengan baik harus melibatkan pikiran, kemauan, dan perasaannya. Belajar dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap.
Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku atau kecakapan seseorang setelah berinteraksi dengan lingkungan. Lingkungan mencakup semua hal yang berpengaruh dan bermakna bagi individu. Lingkungan belajar dikelas meliputi semua unsur-unsur guru, fasilitas belajar, peralatan dan perlengkapan serta kelompok atau individu-induividu siswa lainnya.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dialami secara langsung dan aktif oleh seseorang serta menimbulkan atau mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan baik pengetahuan, pengalaman, keterampilan maupun sikap dan tingkah laku.
Salah satu tugas pokok guru adalah mengevaluasi taraf keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Untuk melihat sejauh mana taraf keberhasilan guru dan belajar peserta didik secara tepat ( valid ) dan dapat dipercaya ( reliable ) kita memerlukan informasi yang didukung perilaku dan pribadi peserta didik.
Setiap kegiatan yang dilakukan dengan sadar oleh seorang tentunya mempunyai tujuan. Tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar adalah merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan. Pada dasarnya tujuan dalam proses belajar yang harus dicapai dan dimiliki siswa setelah ia mnyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar. Perubahan tingkah laku itulah yang diharapkan dikuasai siswa itulah yang sering disebut hasil belajar.
Adanya pengaruh dari dalam siswa adalah merupakan hal yang wajar, karena hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku siswa yang disadarinya.hasil belajar dalam kerangka studi ini dicapai melalui kegiatan yang mencakup ketiga ranah ( domain ) ketiga ranah yang dikenal dengan nama Taksonomi Bloom. Menurut Benyamin S. Bloom : perubahan tingkah laku yang didapat setelah proses belajar dapat diamati melalui tiga ranah yaitu : ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA siswa adalah hasil yang diperoleh dari evaluasi atau tes dan aspek-aspek lainnya yang dikuantitatifkan yang tercermin dari nilai raport yang diberikan oleh guru pada siswa setiap akhir masa belajar semester.

2. Teori Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi Guru Mengajar
a. Pengertian Persepsi Siswa
Persepsi merupakan cerminan pribadi seseorang dalam interaksinya dengan lingkungan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 : 358) persepsi adalah sebagai tanggapan proses seseorang megetahui beberapa hal melalui panca indera.
Menurut Bimo Walgito ( 1983 : 52 ) yang dikutip dari skripsi eni menyatakan bahwa :
“ Persepsi yaitu keadaan dalam diri manusia yang menggerak untuk bertindak menyertai manusia dengan perasaan tertentu didalam menaggapi objek dan terbentuk atas pengalaman-pengalaman “.
dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa persepsi terbentuk dari perkembangan individu atas dasar pengalaman-pengalaman. Namun demikian dalam hubungannya dengan objek, seseorang didorong oleh persepsinya sendiri. Apakah ia akan menerima suatu objek atau ia akan menolaknya.
Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa, pencium. ( Slameto, 2003 : 102 ).
Hal senada diungkapkan oleh W.S.Winkel ( 1983 : 30 ) bahwa “ persepsi adalah kecenderungan dalam diri subjek untuk menerima atau menolak suatu subjek itu sebagai subjek berharga “. Manusia secara umum menerima informasi dari lingkungan lewat proses yang sama, oleh karena itu dalam memahami persepsi harus ada proses dimana ada informasi yang diperoleh lewat memori organism yang hidup.
Pembentukan persepsi ditentukan oleh faktor-faktor, yaitu :
1) Faktor individu itu sendiri ( faktor alam )
Setiap individu menanggapi segala dunia luarnya adalah bersifat selektif, berarti bahwa segala yang diterimanya dari lingkungan terlebih dahulu harus diseleksi, untuk menentukan segala apa diterima atau ditolaknya.
2) Faktor luar
Maksudnya adalah segala bentuk pengalaman yang datang dari luar individu, yang merupakan rangsangan unruk membentuk atau merubah persepsi.
dari pendapat diatas jelaslah bahwa, faktor pembentukan persepsi berasal dari dalam individu itu sendiri dan faktor luar, yang secara langsung atau tidak langsung.
Begitupun siswa, yang merupakan subjek dalam proses belajar mengajar. Ketika pada saat siswa mendapatkan pengajaran yang diberikan oleh seorang guru, maka siswa akan mengolah sesuatu yang dilihat dan dirasakannya, lalu disampaikan ke otak sehingga mereka mempunyai pendapat tentang sesuatu yang dilihatnya itu. Apabila yang dilihatnya menurut mereka tidak bagus maka menimbulkan persepsi yang tidak bagus pula, begitupun sebaliknya apabila yang dilihatnya menurut mereka bagus maka akan menimbulkan persepsi yang bagus pula.
Struktur persepsi terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu :
1) Komponen kognisi yang berhubungan dengan keyakinan, ide dan konsep.
2) Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional.
3) Komponen konasi yang merupakan kecendrungan bertingkah laku.
Atas dasar pendapat diatas, dapat dipahami bahwa komponen yang terkandung dalam persepsi siswa adalah :
1) Kognisi yaitu yang berkaitan dengan penelitian dan pemahaman siswa terhadap pelajaran.
2) Afeksi yaitu yang berkaitan dengan emosional atau perasaan yang ditimbulkan dari pelajaran.
3) Konasi yaitu yang berhubungan dengan kecendrungan untuk bertingkah laku dan bertindak yang ditimbulkan akibat mempelajari pelajaran.
Dari teori-teori diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa persepsi siswa adalah tanggapan siswa atas segala apa yang dilihat dan dirasakan oleh panca indera terhadap suatu objek tertentu.

b. Pengertian Kompetensi Guru Mengajar
Guru merupakan unsur pokok dalam proses pembelajaran, kualitas belajar mengajar yang dilakukan guru merupakan unsur utama dalam peningkatan hasil belajar yang akan dicapai siswa. Dari kenyataan yang ada terlihat keterikatan siswa terhadap guru begitu besar demikian pula sebaliknya,oleh karena itu hasil belajar optimal hanya mungkin diperoleh jika setiap kegiatan yang dilakukan dan direncanakan oleh guru.
Mengajar pada dasarnya adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan untuk siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru.
Mengajar adalah suatu proses pengaturan kondisi-kondisi dengan mana pelajaran mengubah tingkah lakunya dengan sadar kearah tujuan-tujuan sendiri. “ Theaching is the process of arranging conditions. Under which the learning changes his ways consciously in the direction of his own goals “.
Nasution ( 1982 : 8 ) berpendapat bahwa :
1) Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak.
2) Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak.
3) Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan dengan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
Dari pendapat tersebut guru memegang peranan utama dalam proses belajar dan sebaiknya anak dalam belajar dihadapkan pada realitas dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan mengajar merupakan keterampilan guru dalam berinteraksi dengan siswa agar informasi dan keterampilan yang disampaikan dapat diterima oleh siswa secara optimal.
Cece Wijaya ( 1991 : 4 ) kemampuan guru dalam proses belajar mengajar dirasakan dan dipantau oleh siswa dalam bentuk-bentuk antara lain :
1) Siswa dapat mengikuti penyajian guru
2) Penyajian bahan tidak terlalu cepat
3) Contoh-contoh dan soal-soal pelatihan diberikan secara cukup
4) Guru membantu siswa mengingat pelajaran-pelajaran yang pernah diperoleh dan guru mengerti serta mengenal masalah belajar siswa
5) Guru berusaha menjawab pertanyaan siswa seandainya siswa belum mengerti
6) Guru membahas soal-soal pelatihan ( test ) yang tidak dapat dipecahkan oleh siswa.
Guru sebagai sosok manusia dewasa dalam kegiatan belajar mengajar disekolah harus mampu berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam belajar, untuk itu guru diharapkan memilikikepedulian tinggi terhadap keberadaan peserta didiknya. Hamalik ( 2002 : 135 ) mengatakan bahwa :
“ Guru yang baik akan berusaha menyajikan pengajaran berkualitas dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yang diharapkan mampu menunjang kegiatan yang akan dilakukan, salah satu faktor yang bias membawa keberhasilan itu ialah guru tersebut senantiasa membuat perencanaan pengajaran mengajar sebelumnya “.
dari pernyataan tersebut, maka salah satu syarat utama yang dibutuhkan bagi seorang guru adalah keterampilan dalam merencanakan dan menyusun kegiatan belajar serta kemampuan untuk memotivasi dan mengarahkan setiap peserta didik.
Terdapat enam unsur kompetensi guru dalam melaksanakan tugasnya, diantaranya adalah
1) Tingkah laku nyata ( performance ) yang diperlihatkan guru dalam kegiatan mengajar atau mendidik
2) Materi pelajaran
3) Profesionalisme yang berhubungan dengan kegiatan kependidikan
4) Proses belajar mengajar
5) Penyesuaian diri, dan
6) Sikap, nilai dan kepribadian.
Dalam terminology yang berlaku umum, istilah kompetensi berasal dari bahasa inggris competence. Menurut Fullan :
Competence is broad capacities as fully human attribute. Competence is supposed to include all “qualities of personal effectiveness that are required in the workplace”, it is certain that we have here a very diverse set of qualities indeed : attitudes, motives, interests, personal attunements of al kinds, perceptiveness, receptivity, openness, creativity, social skills generally, interpersonal maturity, kinds of personal identifications, etc. – as well as knowledge, understandings, actions and skills.
Menurut Houston yang dikutip Samana dalam buku Hamzah B. Uno, Kompetensi adalah kemampuan yang ditampilkan oleh guru dalam melaksanakan kewajibannya memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.
Menurut Littrel kompetensi adalah kekuatan mental dan fisik untuk melakukan tugas atau keterampilan yang dipelajari melalui latihan dan praktik.
Menurut Stephen J. Kenezevich, kompetensi adalah kemampuan-kemampuan untuk mencapai tujuan organisasi, hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak jenisnya yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, kecerdasan, dll yang dimiliki oleh seseorang unuk mencapai tujuan organisasi.
Pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan dan kecakapan. Seseorang yang dinyatakan kompeten dibidang tertentu adalah seseorang yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan.
R.M. Guion dalam Spencer and Spencer mendefinisikan kompetensi sebagai karakteristik yang menonjol bagi seseorang dan mengindikasikan cara-cara berperilaku atau berpikir, dalam segala situasi dan berlangsung terus dalam periode waktu yang lama.
Kompetensi guru adalah kecakapan atau kemampuan yang dimiliki oleh guru yang diindikasikan dalam tiga kompetensi, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan tugas profesionalnya sebagai guru professional, kompetensi yang berhubungan dengan keadaan pribadinya, dan kompetensi yang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungannya. ( Hamzah, 2008 : 62 ).
Menurut Johnson (1974) yang mengatakan kompetensi merupakan perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan
Menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 10 disebutkan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionnalannya (Sagala, 2009 : 22).
Menurut Djamarah yang dikutip oleh Supardi mendefinisikan kompetensi sebagai suatu yang memadai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang.
Dari pengertian ini seorang yang memiliki kompetensi berarti memiliki kecakapan atau kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang yang menuntut adanya pengetahuan, keterampilan dalam melaksanakannya.
Hal yang sama mengenai kompetensi diungkap oleh Wibowo dan Tjiptono, menurutnya kompetensi dapat berupa motivasi, ciri pembawaan, konsep diri, sikap atau nilai, pengetahuan, keterampilan kognitif atau keterampilan perilaku. ( Supardi, dkk, 2009 : 39 )
Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajardan hubungannya dengan siswa dan dalam menyusun proses belajar mengajar.
Berdasarkan teori-teori tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa kompetensi guru mengajar adalah suatu keterampilan guru dalam mendesain dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang dapat diamati melalui penguasaan terhadap materibahan pelajaran, pengetahuan dan sikap.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap kemampuan guru mengajar adalah tanggapan atau penilaian siswa atas keterampilan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar yang ditimbulkan dari dalam diri siswa.

c. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata latin “Movere” yang berarti dorongan atau mengarahkan. Motivasi mempersoalkan bagaimana cara mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif sehingga berhasil mencapai atau mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Istilah motivasi juga berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.
Seperti dikatakan Isbandi Rukminto ( 1994 : 154 ) bahwa :
“ Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif yang tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat di interpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangit tenaga munculnya tingkahlaku tertentu “.

Motivasi adalah tenaga atau faktor yang terdapat didalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan, dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Sedangkan kata motif adalah suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau melakukan sesuatu atau sikap tertentu.
Dalam proses belajar, motivasi sangatlah penting sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi dapat dilihat dari dua sudut / sifat motivasi yakni :
1) Motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang ( motivasi intrinsik )
2) Motivasi ekstrinsik, motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
Prinsip-prinsip motivasi belajar :
1) Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar
2) Motivasi intrinsik lebih utama dari daripada motivasi ekstrinsik dalam belajar
3) Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman
4) Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar
5) Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar
6) Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar.
Menurut Abraham H. Maslow dalam Hamzah Uno (2006 : 41), motivasi dilihat dari segi kebutuhan manusia :
1) Kebutuhan fisiologis, kebutuhan primer yang harus dipuaskan, sandang, pangan dan papan
2) Kebutuhan keamanan, keamanan batin,keamanan barang atau benda
3) Kebutuhan sosial, kebutuha perasaan akan cinta kasih
4) Kebutuhan berprestasi, kebutuhan akan pengakuan dari orang lain
5) Kebutuhan aktualisasi diri, yang berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut maka penulis menarik kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah energi yang timbul pada diri siswa yang menjadi pendorong untuk mencapai tujuan tertentu yakni meningkatkan hasil belajar.

B. Kerangka Berfikir
1. Pengaruh Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi Guru Mengajar (X1) Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa (Y)

Persepsi merupakan perwujudan perasaan seseorang serta penilaian terhadap suatu obyek yang didasarkan pada pengetahuan, pemahaman, pendapat dan kenyataan maupun gagasan-gagasannya terhadap suatu obyek sehingga menghasilkan suatu kecenderungan untuk bertindak kepada suatu obyek. Persepsi berkaitan dengan penilaian seseorang, persepsi juga erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Persepsi positif dan negatif dapat keluar dari seseorang tergantung bagaimana seseorang itu menyikapi kenyataan, persepsi positif dan negatif juga dipengaruhi sejauhmana pengalaman-pengalaman diri seseorang dapat menjadi sebuah pelajaran.
Persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar merupakan perwujudan perasaan siswa terhadap IPA yang diwujudkan dengan cara pandang dan keinginan dia untuk mempelajari IPA. Komponen sikap dalam memandang sesuatu obyek terbagi dalam tiga hal antara lain afeksi, yaitu berupa tanggapan emosional berupa pernyataan senang dan tidak senang. Kemudian kognisi, yaitu tanggapan perseptual yang diimplementasikan dalam bentuk pernyataan tentang kepercayaan dan konasi, yaitu berupa tanggapan dan tindakan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Dengan demikian maka, yang dimaksud dengan persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar adalah perasaan terhadap guru itu sendiri, kesediaan untuk mempelajari, dan kesadaran terhadap manfaat diajarkan oleh guru.
Maka diduga bahwa persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar memiliki pengaruh yang positif terhadap hasil belajar IPA. Sehingga semakin tinggi persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar tersebut maka akan semakin tinggi pula hasil belajar IPA yang dicapai oleh siswa.
2. Pengaruh Motivasi Belajar (X2) dengan Hasil Belajar IPA Siswa (Y)

Motivasi merupakan suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Dengan motivasi belajar yang kuat siswa akan terdorong untuk berusaha menguasai pelajaran yang disukainya tersebut.
Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti motivasi. Dan tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Belajar adalah proses yang butuh dorongan dan bimbingan. Jadi dalam belajar, motivasi memiliki peran yang sangat penting.
Dengan demikian keterkaitan ketiga unsur di atas adalah motivasi yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan berhubungan dengan persoalan kejiwaan, perasaan dan juga energi untuk melakukan sesuatu. Semua ini dilakukan karena didorong adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.
Siswa yang mempunyai motivasi tinggi secara psikologis, mempunyai perhatian yang lebih dan biasanya siswa tersebut memiliki dorongan dalam diri untuk berprestasi lebih baik. Sementara siswa yang bermotivasi rendah, cenderung kurang memiliki perhatian terhadap pelajaran. Sehingga memiliki keterbatasan dalam mengatur kegiatan kognitifnya. Mereka biasanya mengolah informasi secara setengah-setengah, sehingga informasi yang didapat tidak ada pertalian antara informasi yang baru diterima dengan informasi yang telah diterima.
Maka diduga bahwa motivasi belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap hasil belajar IPA siswa. Sehingga semakin tinggi pengetahuan awal siswa, maka akan semakin tinggi pula hasil belajar IPA-nya.

3. Pengaruh Persepsi Siswa Terhadap Komptensi Guru Mengajar Terhadap dan Motivasi Belajar IPA Terhadap Hasil Belajar IPA

Persepsi siswa terhadap Kompetensi Guru mengajar merupakan perwujudan perasaan siswa terhadap IPA yang diwujudkan dengan cara pandang dan keinginan dia untuk mempelajari IPA. Komponen persepsi dalam memandang sesuatu obyek terbagi dalam tiga hal antara lain afeksi, yaitu berupa tanggapan emosional berupa pernyataan senang dan tidak senang. Kemudian kognisi, yaitu tanggapan perseptual yang diimplementasikan dalam bentuk pernyataan tentang kepercayaan dan konasi, yaitu berupa tanggapan dan tindakan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Dengan demikian maka, yang dimaksud dengan persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar adalah perasaan terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru IPA, kesediaan untuk mempelajari, dan kesadaran terhadap manfaat IPA.
Motivasi merupakan suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Dengan motivasi belajar yang kuat siswa akan terdorong untuk berusaha menguasai pelajaran yang disukainya tersebut.
Hasil belajar IPA merupakan perubahan-perubahan tingkah laku, yaitu perubahan ke arah pemahaman yang lebih dalam tentang materi dan esensi pelajaran IPA. Perubahan ini berupa pemahaman terhadap konsep-konsep IPA dan juga kemampuan menggeneralisasi berbagai bentuk pengetahuan setelah memperoleh pengalaman belajar IPA. Hasil belajar IPA yang baik tidak diperoleh begitu saja, semuanya butuh perjuangan bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial.
Siswa yang memiliki persepsi yang baik terhadap kompetensi guru mengajar, biasanya akan memiliki hasil belajar yang baik pula, sekalipun ia menghadapi hal-hal baru dalam mata pelajaran IPA yang membuat dirinya menjadi termotivasi.
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar dan motivasi belajar IPA merupakan faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPA. Maka diduga bahwa persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar dan motivasi belajar memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap hasil belajar IPA siswa. Sehingga jika persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar tinggi dan motivasi belajar siswa juga tinggi maka hasil belajar IPA siswa juga tinggi.

C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori dan latar belakang diatas, maka hipotesis penelitian yang akan diuji dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh yang positif antara persepsi siswa terhadap kompetansi guru mengajar terhadap hasil belajar IPA siswa.
2. Terdapat pengaruh yang positif antara motivasi belajar terhadap hasil belajar IPA.
3. Terdapat pengaruh yang positif secara bersama-sama antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru mengajar dan motivasi belajar terhadap hasil belajar IPA siswa.

 
Comments Off

Posted in Referensi

 

Tags:

Comments are closed.

 
1 visitors online now
0 guests, 1 bots, 0 members
Max visitors today: 1 at 12:01 am UTC
This month: 11 at 07-01-2014 03:40 am UTC
This year: 14 at 05-01-2014 04:39 pm UTC
All time: 92 at 11-05-2013 10:26 am UTC
Terima Kasih atas kunjungan anda...Wassalam